Jakarta, FORTUNE - Transformasi pasar keuangan global kian melaju seiring pesatnya perkembangan tokenisasi aset atau Real-World Assets (RWA). Berdasarkan data RWA.xyz, per 8 Mei 2026, kapitalisasi pasar sektor ini telah mencapai US$39,6 miliar, melonjak drastis dibandingkan posisi awal 2024 yang masih berada di kisaran US$1,8 miliar.
Kenaikan tersebut didorong derasnya adopsi dari institusi keuangan global serta meningkatnya ketertarikan investor ritel terhadap akses investasi lintas negara yang lebih fleksibel dan mudah dijangkau.
Tokenisasi aset merupakan proses representasi digital aset dunia nyata, mulai dari saham Amerika Serikat, obligasi, hingga emas ke dalam bentuk token berbasis blockchain. Setiap token memiliki rasio nilai 1:1 dengan aset acuannya. Teknologi ini dinilai mampu memangkas hambatan investasi konvensional melalui transaksi instan, perdagangan tanpa batas waktu selama 24 jam, serta sistem yang lebih transparan.
Keterlibatan institusi besar seperti BlackRock, JPMorgan Chase, dan Goldman Sachs memperlihatkan bahwa tokenisasi mulai dipandang sebagai fondasi baru bagi infrastruktur keuangan modern. Firma riset McKinsey & Company bahkan memperkirakan kapitalisasi pasar sektor ini dapat menembus US$2 triliun pada 2030.
Di sisi lain, tokenisasi saham dinilai memperluas akses bagi investor ritel. Saat ini, aset seperti saham Apple, NVIDIA, maupun komoditas berbasis emas seperti PAX Gold menjadi instrumen yang paling banyak diminati. Jika sebelumnya investasi saham global dan emas fisik identik dengan modal besar serta proses administrasi yang rumit, kini transaksi dapat dilakukan dengan jauh lebih praktis.
Di Indonesia, sejumlah platform investasi telah menyediakan akses terhadap tokenized assets sehingga investor dapat membeli saham perusahaan teknologi Amerika Serikat maupun emas fisik mulai dari Rp11.000. Penerapan sistem self-custody berbasis blockchain juga memungkinkan investor memiliki kendali langsung atas aset mereka tanpa bergantung penuh pada broker atau pihak ketiga.
Perkembangan tersebut membuat tokenisasi aset dipandang bukan sekadar tren sementara di industri kripto. Teknologi ini perlahan membentuk ulang struktur investasi global dengan menggabungkan kestabilan aset riil dan efisiensi blockchain, menjadikannya salah satu sektor paling prospektif dalam ekosistem aset digital.
Meski prospeknya dinilai menjanjikan, analis tetap mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor. Mulai dari potensi bug dan eksploitasi pada smart contract, keterbukaan kustodian penyimpan aset fisik, hingga risiko likuiditas ketika aktivitas perdagangan sedang rendah.
