Jakarta, FORTUNE - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menetapkan target pertumbuhan laba bersih moderat untuk tahun buku 2026. Pengelola jaringan ritel Alfamart itu memproyeksikan pertumbuhan masih belum akan mencapai dua digit. Perkiraan itu ditetapkan sebagai respons terhadap perubahan perilaku konsumen yang kian sensitif terhadap harga.
Corporate Affairs Director AMRT, Solihin, menjelaskan sikap hati-hati ini diambil setelah mencermati dinamika daya beli masyarakat, meskipun perseroan tetap optimistis mencatatkan peningkatan kinerja.
“Tahun ini kami harapkan bisa meningkat, ya. Sampai saat ini, kami belum berani menargetkan double digit,” ujar Solihin kepada pers di Alam Sutera, Tangerang, Kamis (29/1).
Tantangan utama yang disoroti manajemen adalah pergeseran pola belanja (downtrading). Konsumen kini tidak segan-segan beralih ke produk yang lebih murah asalkan fungsi dasarnya terpenuhi, demi menyiasati tekanan ekonomi.
“Apa yang terjadi pada saat ini? Dulu orang kalau kita bicara perempuan, ya, khususnya nih. Dulu sampo harus merek tertentu, sekarang merek apa saja yang penting murah, yang penting ada busa, yang penting rambut bersih,” kata Solihin memberikan ilustrasi.
Merespons tren tersebut, Alfamart berupaya menjaga margin penjualan sembari mempertahankan pendapatan (revenue) melalui dua strategi utama: optimalisasi penjualan toko yang sudah ada (same store growth) dan pembukaan gerai baru (new opening store).
Meski memasang target laba konservatif, AMRT tetap agresif dalam ekspansi fisik. Tahun ini, perseroan menargetkan pembukaan total 900 gerai baru. Perinciannya, 800 gerai akan dibuka di Indonesia dan 100 gerai di pasar baru, yakni Bangladesh.
“Rencana opening kami 800 [di Indonesia]. Realisasi pasti lebih, karena kami hitungnya net,” ujarnya.
Sepanjang tahun lalu, AMRT membuka 1.081 gerai baru, menjadikan total jaringan gerai Alfamart mencapai 21.081 unit hingga akhir 2025.
Dalam jangka pendek, fokus operasional Alfamart tertuju pada kesiapan stok menjelang Ramadan dan Lebaran. Solihin memastikan pihaknya telah berkoordinasi intensif dengan para prinsipal dan distributor untuk menyusun perkiraan kebutuhan yang akurat selama periode perayaan.
“Jangan sampai saat Lebaran, masyarakat membutuhkan barang, [tapi] barang enggak ada. Artinya, kami sudah siap-siap nih. Harapannya tentunya barang tersedia dengan baik,” kata Solihin.
