Jakarta, FORTUNE - PT Waskita Beton Precast Tbk masih membukukan kerugian pada periode 2025. Namun, rugi bersih yang dicatat perseroan turun hingga 46,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
WSBP membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,57 triliun, turun 20 persen dibandingkan capaian tahun 2024. Kinerja pendapatan perseroan ditopang tiga lini bisnis utama yakni segmen Beton Precast, Readymix and Quarry, serta Jasa Konstruksi.
Dari ketiga segmen itu, segmen Beton Precast memberikan kontribusi terbesar. Segmen ini mencatatkan penjualan Rp740,43 miliar atau menyumbag sekitar 47,2 persen dari total pendapatan usaha. Adapun, segmen Readymix and Quarry berkontribusi sebesar Rp504,65 miliar atau 32,1 persen, dan segmen Jasa Konstruksi menyumbang Rp324,50 miliar atau sekitar 20,7 persen.
Kepala Divisi Corporate Secretary WSBP, Fandy Dewanto, mengatakan kinerja masing-masing segmen bisnis perseroan ditopang oleh sejumlah proyek strategis nasional, seperti Jalan Tol Palembang–Betung Seksi 2, Jalan Tol Ciawi–Sukabumi Seksi 3B, Jalan Tol Serang–Panimbang (Cileles–Panimbang) Fase 2 Paket 3, pembangunan Sekolah Rakyat, serta pembangunan Gedung Kuliah Jurusan Kesehatan Politeknik Negeri Madura tahun anggaran 2025.
"WSBP terus berupaya menjaga produktivitas dan kualitas layanan melalui pengelolaan operasional yang lebih efisien," kata Fandy dalam siaran pers, dikutip Senin (30/3).
Di sisi lain, WSBP berhasil menurunkan biaya penjualan sebesar 27,78 persen secara tahunan, lalu menekan biaya umum dan administrasi hingga 19,66 persen secara tahunan. Fandy mengatakan, langkah efisiensi tersebut dilakukan secara konsisten di berbagai lini operasional perusahaan sebagai upaya memperkuat kinerja keuangan.
Hasilnya, WSBP membukukan laba kotor senilai Rp274,47 miliar dengan Gross Profit Margin (GPM) sebesar 17,5 persen. Sementara itu rugi bersih tahun berjalan berhasil ditekan hingga 46,11 persen menjadi Rp537,3 miliar, dari sebelumnya mencapai rugi Rp997,3 miliar.
"WSBP terus mendorong strategi penguatan pasar, efisiensi dan optimalisasi proses bisnis guna menjaga stabilitas kinerja perusahaan dan memastikan keberlanjutan usaha di tengah volatilitas ekonomi global," katanya.
Ke depan, perseroan berharap dapat menjaga keberlanjutan usaha. Caranya, dengan berfokus pada peningkatan produktivitas, optimalisasi aset produksi, serta pelaksanaan proyek-proyek dengan skema pendanaan yang sehat.
