Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
ADB Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,2% Saat Asia-Pasifik Melambat
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)
  • ADB memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026–2027, ditopang konsumsi domestik kuat, investasi meningkat, serta dukungan kebijakan pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis dan magang pekerja muda.
  • Investasi diperkirakan naik berkat pengembangan hilirisasi, manufaktur, dan reformasi struktural yang memperkuat iklim bisnis serta proyek infrastruktur publik yang menopang partisipasi swasta.
  • Pertumbuhan negara berkembang Asia-Pasifik melambat ke 5,1% akibat konflik Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan, dengan inflasi regional naik hingga sekitar 3,6% pada 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Asian Development Bank (ADB), memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2026, ditopang oleh konsumsi domestik yang tetap kuat dan peningkatan investasi. 

Proyeksi tersebut disampaikan dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) pada April 2026, yang juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada di level yang sama, yakni 5,2 persen. Sebelumnya, World Bank memprediksi ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,7 persen pada 2026 akibat tingginya harga minyak global dan sentimen kehati-hatian investor.

Memasuki 2026, ADB menilai momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Konsumsi domestik diperkirakan tetap solid seiring pertumbuhan pendapatan yang stabil serta dukungan kebijakan pemerintah. Hal ini diperkuat oleh permintaan musiman yang terkait dengan perayaan Ramadan dan Idul Fitri pada bulan Maret, yang meningkatkan konsumsi rumah tangga di sektor makanan, ritel, transportasi, dan perhotelan.

“Dukungan pemerintah difokuskan pada langkah-langkah yang ditargetkan pada rumah tangga, stimulus fiskal, dan insentif. Perluasan bertahap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan dukungan magang untuk pekerja muda membantu mempertahankan ketahanan rumah tangga dan pendapatan upah, memperkuat momentum konsumsi,” demikian laporan ADB, dikutip Jumat (10/4).

Di sisi lain, investasi diproyeksikan meningkat secara bertahap, didorong oleh pengembangan hilirisasi, sektor manufaktur, serta partisipasi swasta yang lebih besar.

Kemajuan dalam pengolahan mineral, manufaktur, dan rantai pasok diperkirakan akan terus menarik investasi domestik dan asing, mendukung penciptaan lapangan kerja formal. 

“Reformasi struktural untuk memperkuat iklim bisnis bersama dengan kondisi pembiayaan yang mendukung kemungkinan akan mendorong pembentukan modal. Infrastruktur publik dan proyek-proyek strategis akan tetap menjadi pelengkap penting bagi investasi swasta,” tulis laporan tersebut.

ADB juga memperkirakan inflasi Indonesia akan tetap terkendali pada kisaran 2,5 persen pada 2026, masih berada dalam target yang ditetapkan otoritas moneter. 

Meski demikian, ADB mengingatkan adanya risiko terhadap prospek pertumbuhan, terutama jika konflik geopolitik global, seperti di Timur Tengah, berlangsung lebih lama dan memicu tekanan pada harga energi serta rantai pasok global.    

proyeksi ADB. Dok ADB

Pertumbuhan Asia-Pasifik Melambat

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia-Pasifik diperkirakan akan melambat menjadi 5,1 persen pada tahun 2026 dan 2027, dari 5,4 persen tahun lalu, terbebani oleh konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan yang berkelanjutan.

Inflasi regional diproyeksikan meningkat menjadi 3,6 persen pada tahun 2026 dan 3,4 persen pada tahun 2027, dari 3,0 persen tahun lalu.

Perkiraan ini didasarkan pada asumsi di tengah ketidakpastian yang sangat tinggi, yang memperkirakan skenario stabilisasi awal untuk konflik di Timur Tengah. ADB memperkirakan kemungkinan akan terjadinya gangguan yang lebih berkepanjangan.

Kepala Ekonom ADB, Albert Park menilai, konflik berkepanjangan di Timur Tengah merupakan risiko terbesar bagi prospek kawasan ini, karena dapat menyebabkan harga energi dan pangan tetap tinggi serta kondisi keuangan yang semakin ketat. 

“Dengan ketidakpastian kebijakan perdagangan yang kembali muncul dan menimbulkan risiko tambahan, sangat penting bagi pemerintah untuk menerapkan kebijakan makroekonomi yang tepat guna mempertahankan pertumbuhan dan mengendalikan inflasi, dengan langkah-langkah dukungan yang tepat sasaran untuk melindungi rumah tangga yang rentan,” ujarnya dalam laporan ADB. 

Editorial Team