Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
⁠BI-Rate Naik 50 bps, Tren Bunga Acuan Tinggi Bakal Terjadi di Asia?
ilustrasi beberapa bendera negara di Asia (pexels.com/Thể Phạm)
  • Bank Indonesia mengerek BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 untuk mengupayakan stabilitas rupiah.

  • Kenaikan ini dinilai lebih agresif dibandingkan dengan negara Asia lain seperti Malaysia dan Vietnam, karena tekanan pelemahan rupiah yang sudah menjalar ke pasar obligasi dan saham.

  • Langkah BI memberi sinyal prioritas pada stabilitas mata uang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kenaikan BI Rate sebesar 50 bps menunjukkan ketegasan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang meluas. Langkah ini mencerminkan kesiapan otoritas moneter untuk menanggung biaya jangka pendek demi mempertahankan kepercayaan pasar, sekaligus menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan solid 5,61 persen pada kuartal I-2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE Bank Indonesia (BI) baru saja mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada Mei 2026. Kebijakan moneter yang cenderung agresif ini ditempuh guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Kebijakan bank sentral Indonesia ini terbilang ekstrem jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia. Sebagai perbandingan, Bank Negara Malaysia (BNM) dan State Bank of Vietnam tetap bergeming. Kedua bank sentral tersebut memilih mempertahankan bunga acuan masing-masing pada level 2,75 persen dan 4,50 persen sejak November 2025 hingga Mei 2026.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai keputusan BI ini melampaui ekspektasi pasar. Mayoritas ekonom sebelumnya memprediksi kenaikan hanya 25 basis poin. Proyeksi tersebut didasari atas laju inflasi domestik yang masih relatif terkendali.

“Namun, BI tampaknya menilai tekanan rupiah sudah masuk fase yang menguji kredibilitas kebijakan,” kata Josua kepada Fortune Indonesia di Jakarta, Kamis (21/5).

Keputusan drastis tersebut dipicu oleh terpuruknya rupiah secara signifikan. Pada 21 Mei 2026, nilai tukar domestik anjlok ke kisaran Rp17.650/US$. Angka ini merosot tajam dibandingkan dengan akhir Desember 2025 yang mencapai Rp16.600/US$.

Kondisi tersebut mulai menjalar ke pasar obligasi dan saham. Imbal hasil (yield) SBN 10 tahun ikut merangkak naik ke sekitar 6,86 persen. Menurut Josua, tekanan hebat ini memaksa BI memberikan sinyal pengetatan lebih tegas.

“Dalam situasi seperti ini, kenaikan 50 basis poin bukan hanya kebijakan moneter, tetapi juga pernyataan bahwa BI siap membayar biaya jangka pendek demi mencegah pelemahan rupiah berubah menjadi krisis kepercayaan,” ujarnya.

Tekanan nilai tukar sejatinya melanda hampir seluruh jagat Asia. Mata uang Jepang dan Vietnam ikut tertekan akibat melambungnya harga minyak dunia dan kenaikan imbal hasil global. Fenomena ini memicu investor asing keluar dari aset-aset negara berkembang (capital outflow).

Menghadapi ketidakpastian yang berlanjut, bank-bank sentral di Asia diprediksi akan mulai berpikir untuk menaikkan suku bunga acuan. Bank of Japan (BOJ) bahkan telah mengerek suku bunga jangka pendeknya sebesar 25 bps pada Januari 2026 menjadi 0,75 persen.

“Sinyal yang ditangkap negara peers adalah bahwa bank sentral di Asia tidak lagi bisa terlalu lama menunggu jika tekanan minyak, dolar AS, dan arus modal keluar memburuk. Selama ini respons bank sentral Asia berbeda-beda: sebagian sudah mengetatkan kebijakan, sebagian masih menahan suku bunga untuk melindungi pertumbuhan,” kata Josua.

Melalui kebijakan ini, BI memberikan sinyal kuat bahwa stabilitas mata uang kini lebih diprioritaskan ketimbang ruang pelonggaran untuk pertumbuhan.

Fundamental ekonomi Indonesia sendiri dinilai masih kokoh. Laju pertumbuhan ekonomi nasional berhasil mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026, yang merupakan torehan tertinggi di antara negara-negara dalam kelompok G20.

Namun, amunisi moneter dari bank sentral dinilai belum cukup kuat untuk menahan badai ekonomi global. Perlu ada kolaborasi erat antara otoritas moneter dengan pemerintah demi mendongkrak kembali kepercayaan investor. Menurut Josua, stabilitas rupiah akan lebih terjaga jika kenaikan suku bunga disertai intervensi valas yang terukur, penguatan SRBI, stabilisasi SBN, pengetatan transaksi dolar spekulatif, serta komunikasi fiskal yang meyakinkan.

Pergerakan suku bunga acuan di berbagai negara Asia

Periode

Bank Indonesia (BI Rate)

Bank of Japan (BOJ Policy Rate)

Bank Negara Malaysia (OPR)

State Bank of Vietnam (SBV) (Refinancing Rate)

November 2025

4,75%

0,50%

2,75%

4,50%

Desember 2025

4,75%

0,50%

2,75%

4,50%

Januari 2026

4,75%

0,75%

2,75%

4,50%

Februari 2026

4,75%

0,75%

2,75%

4,50%

Maret 2026

4,75%

0,75%

2,75%

4,50%

April 2026

4,75%

0,75%

2,75%

4,50%

Mei 2026

5,25%

0,75%

2,75%

4,50%

Sumber: Riset Fortune Indonesia (2026)

Apakah kenaikan BI Rate 50 bps langkah yang tepat?

Editorial Team