Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wamenko Dradjad Bantah Daya Beli Melemah, Klaim Masyarakat Pilih Jalan-Jalan
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo dan Kepala BPS Amalia Adininggar. Dok Humas Ekon
  • Dradjad Wibowo membantah daya beli masyarakat melemah berdasarkan data aktivitas transportasi, pariwisata, restoran, hotel, dan transaksi QRIS.

  • Pola konsumsi bergeser dari belanja luring ke transaksi elektronik, seiring gaya hidup yang lebih banyak melakukan mobilitas dan travelling.

  • Inflasi dinilai lebih dipengaruhi biaya dan pasokan, sementara pemerintah berencana memperkuat ketersediaan barang dan pencatatan aktivitas ekonomi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Senin (12/10)

Dradjad Wibowo bertemu dengan Kepala BPS Amalia Adhininggar Widyasanti di Kantor BPS, Jakarta. Dradjad menyampaikan bahwa daya beli masyarakat tidak melemah berdasarkan sejumlah data BPS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Dradjad Wibowo membantah daya beli masyarakat di Indonesia mengalami pelemahan dan menjelaskan perubahan pola konsumsi serta faktor yang memengaruhi inflasi.
  • Who?
    Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo dan Kepala BPS Amalia Adhininggar Widyasanti.
  • Where?
    Pertemuan berlangsung di Kantor Badan Pusat Statistik, Jakarta.
  • When?
    Senin (12/10).
  • Why?
    Dradjad menyampaikan bantahan berdasarkan data BPS tentang pertumbuhan aktivitas transportasi hingga pariwisata dan peningkatan transaksi QRIS.
  • How?
    Data aktivitas transportasi, restoran, hotel, dan transaksi QRIS digunakan untuk mencerminkan konsumsi masyarakat, sementara inflasi dikaitkan dengan biaya dan pasokan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dradjad Wibowo bilang daya beli orang-orang tidak melemah. Ia melihat banyak orang bepergian, makan di restoran, menginap di hotel, dan memakai QRIS. Amalia dari BPS juga menjelaskan kebiasaan belanja berubah menjadi lebih elektronik. Pemerintah sedang membahas inflasi, pasokan barang, dan pencatatan kegiatan ekonomi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Data aktivitas transportasi, restoran, hotel, pariwisata, dan transaksi QRIS memberikan gambaran bahwa konsumsi masyarakat tetap bergerak. Pergeseran menuju transaksi elektronik juga menunjukkan perubahan pola konsumsi yang tercatat melalui berbagai indikator. Rencana peningkatan kualitas pencatatan dapat membantu pemerintah menangkap aktivitas ekonomi yang sebelumnya belum sepenuhnya masuk statistik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo membantah bahwa daya beli masyarakat saat ini mengalami pelemahan. Hal ini disampaikan usai melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor BPS, Jakarta, Senin (12/10).

“Yang pertama bisa saya sampaikan, itu tidak betul kalau daya beli di Indonesia itu melemah, itu salah. Daya beli tidak melemah,” katanya di Kantor BPS, Jakarta, Senin (12/10).

Dradjad mengatakan bahwa klaim tersebut disimpulkan setelah mendapatkan sejumlah data dari BPS, mulai dari data pertumbuhan aktivitas sektor transportasi hingga pariwisata. “Nah transportasi itu tinggi sekali, karena apa? Karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang jalan-jalan,” kata Dradjad.

Kenaikan aktivitas transportasi tersebut juga mengerek konsumsi dari sektor restoran dan hotel. Selain itu, Dradjad mengatakan bahwa kuatnya daya beli masyarakat juga dicerminkan dari transaksi QRIS yang meningkat di atas 1100 persen. “Ya kalau transaksi QRIS meningkat drastis, itu kan nantinya memang banyak transaksi, banyak konsumsi. Jadi yang terjadi, itu bukan daya beli melemah,” ujar Dradjad.

Pada saat yang sama, Kepala BPS Amalia juga mengatakan bahwa pergeseran konsumsi masyarakat dipengaruhi oleh gaya hidup yang berbeda. "Pertumbuhannya lebih tinggi untuk transportasi, restoran, dan hotel. Karena memang konsimsi masyarakat yang lebih kepada mobilitas dan travelling," ujar Amalia.

Selain daya beli, pemerintah juga menyoroti mengenai inflasi. Menurut pembahasan dengan BPS, Dradjad mengatakan bahwa inflasi di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biaya dan pasokan atau cost-push inflation dan bukan disebabkan oleh demand. Oleh sebab itu, pengendalian inflasi perlu dilakukan dengan memperkuat ketersediaan barang.

“Pengendalian inflasi itu bisa dilakukan dengan mendorong supply,” katanya.

Dradjad mencontohkan, keterbatasan pasokan komoditas seperti cabai dan alpukat dapat mendorong kenaikan harga. Sementara itu, untuk sejumlah produk elektronik, ketergantungan pada impor turut memengaruhi pembentukan harga.

Pemerintah juga berencana memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga untuk meningkatkan kualitas pencatatan aktivitas ekonomi, termasuk kegiatan perusahaan dan badan usaha milik negara di daerah yang belum sepenuhnya tertangkap dalam statistik.

Curated For You

Editorial Team

Related Article