Jakarta, FORTUNE - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia diklaim tetap menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan sepanjang 2025, kinerja industri ini tetap menunjukkan tren positif.
"Sepanjang tahun 2025, sektor ini mencatatkan pertumbuhan 3,55 persen secara tahunan, dengan nilai ekspor mencapai US$12,08 miliar dan surplus US$3,45 miliar yang terutama disumbang oleh ekspor pakaian jadi," kata Agus Gumiwang Kartasasmita dalam rangkaian pembukaan Indo Intertex & Inatex 2026 di Jakarta, Rabu (15/4).
Dari sisi penanaman modal, ketertarikan pelaku usaha terhadap industri TPT juga masih terjaga. Kondisi ini mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek sektor tersebut di tengah dinamika ekonomi global.
"Industri TPT berhasil menarik investasi sebesar Rp20,23 triliun, yang mencerminkan masih terjaganya kepercayaan pelaku usaha di tengah ketidakpastian global," katanya, menambahkan.
Di samping itu, industri TPT tetap memegang peran penting sebagai salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di sektor manufaktur nasional.
"Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini menyerap 3,96 juta tenaga kerja atau sekitar 19,48 persen dari total tenaga kerja di sektor industri pengolahan," ungkap Agus.
Di sisi lain, industri tekstil juga masih menjadi sektor strategis yang berperan penting dalam perekonomian nasional. Selain menyerap jutaan tenaga kerja, sektor ini turut menopang proses industrialisasi serta menghubungkan rantai nilai industri dari hulu hingga hilir.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, menyoroti bahwa tahun 2026 dibuka dengan kondisi global yang masih dinamis, ditandai oleh ketegangan geopolitik, gangguan perdagangan, serta perubahan rantai pasok global.
Menurutnya, dalam kondisi tersebut, industri TPT dituntut untuk meningkatkan efisiensi serta kemampuan adaptasi di tengah persaingan industri.
"Transformasi menuju proses produksi yang lebih modern, termasuk pemanfaatan teknologi dan efisiensi energi, menjadi kunci untuk menjaga daya saing," kata Jemmy.
Seiring dengan itu, adopsi teknologi mulai menjadi fokus dalam pengembangan industri tekstil. Inovasi seperti mesin berkelanjutan, produk ramah lingkungan, teknologi daur ulang, hingga solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai berperan dalam mendorong efisiensi dan transformasi digital sektor ini.
Jemmy juga menilai kesepakatan perdagangan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat dapat menjadi momentum pemulihan industri tekstil nasional.
Melalui kesepakatan tersebut, produk tekstil dan garmen Indonesia memperoleh fasilitas tarif impor nol persen ke pasar Amerika Serikat melalui skema tariff-rate quota (TRQ).
“Penerapan tarif nol persen melalui kesepakatan ini memberikan optimisme baru bagi industri tekstil nasional,” ujar Jemmy dalam keterangan tertulis.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar Amerika Serikat yang jauh lebih besar dibandingkan pasar domestik. Selain itu, dampaknya dinilai signifikan karena industri ini menopang sekitar 4 juta tenaga kerja serta memberikan efek ekonomi bagi sekitar 20 juta masyarakat Indonesia.
“Kami berharap ini dapat menjadi titik awal kebangkitan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), dengan mendorong masuknya investasi, meningkatkan kinerja ekspor, serta menggerakkan kembali seluruh ekosistem industri,” ujarnya.
Menilik pada perhelatan Indo Intertex & Inatex 2026, pameran ini menjadi penguatan kapasitas nasional. Tahun ini diikuti oleh 428 perusahaan industri TPT, dengan partisipasi industri dalam negeri mencapai 65 persen. Sementara itu, keikutsertaan industri permesinan TPT dalam negeri tercatat sebesar 60 persen. Seminar dan workshop interaktif bersama praktisi juga digelar guna membahas tren, strategi, serta tantangan. Dengan demikian, diharapkan tercipta kolaborasi yang semakin erat antar pelaku industri, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri tekstil global.
