Jakarta, FORTUNE - Sejumlah profesional dan pemimpin industri kesehatan bersiap memanfaatkan teknologi guna mengatasi kekurangan tenaga kerja, terutama di daerah pedesaan. Sebanyak 77% responden aktif menggunakan atau berencana menggunakan solusi kesehatan digital untuk tujuan ini, melebihi rata-rata global (56%).
Selain itu, para profesional kesehatan muda sangat tertarik untuk bekerja di institusi rumah sakit yang memiliki teknologi canggih.
Hal itu terungkap dalam Future Health Index (FHI) Indonesia 2023 rilisan perusahaan teknologi kesehatan Royal Philips. Future Health Index (FHI) 2023 merupakan survei yang diselenggarakan oleh Philips di 14 negara, termasuk Indonesia. Astri menyebut Indonesia merupakan pasar yang penting sehingga banyak responden Indonesia yang dilibatkan dalam survei tersebut. Dari 3.000 responden di 14 negara, 200 berasal dari Indonesia, yang merupakan pemimpin pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan muda.
Dalam survei, sepertiga dari responden Indonesia memberikan prioritas akses ke kecerdasan buatan dalam perawatan kesehatan dan pengiriman perawatan terhubung saat memilih tempat kerja. Mereka menyebutkan pelatihan yang lebih baik tentang teknologi baru (46%) dan akses ke alat diagnostik canggih (42%) sebagai faktor kunci untuk meningkatkan perawatan pasien.
Berdasarkan hampir 3.000 tanggapan dari 14 negara, termasuk Indonesia, laporan ini mengeksplorasi bagaimana sistem kesehatan berinovasi dalam memberikan pelayanan perawatan untuk memenuhi kebutuhan pasien yang terus berkembang.
Direktur Utama Philips Indonesia, Astri Ramayanti, mengatakan, laporan Philips Future Health Index 2023 Indonesia kali ini memperkuat urgensi perlunya adopsi teknologi untuk membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan berorientasi pada pasien.
"Laporan ini juga menekankan kekuatan transformatif inovasi digital dalam meredefinisi pemberian layanan kesehatan guna menangani kompleksitas lanskap kesehatan di Indonesia serta mengakomodasi kebutuhan pasien yang semakin berkembang," ujarnya.