Jakarta, FORTUNE - Pemerintah menetapkan harga rata-rata minyak mentah atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Maret 2026 di level US$102,26 per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman menyampaikan bahwa lonjakan harga ICP ini dipicu oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak langsung terhadap pasokan energi dunia.
Situasi ini kian diperparah dengan terganggunya Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi dunia yang selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
"Rata-rata ICP bulan Maret 2026 mengalami kenaikan signifikan dibandingkan Februari 2026, dari US$68,79 per barel menjadi US$102,26 per barel. Kenaikan ini sejalan dengan tren harga minyak mentah utama dunia yang juga mengalami peningkatan tajam," ujar Laode, dikutip Senin (20/4).
Selain itu, ada berbagai serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah sehingga turut memeengaruhi pasokan. Dinamika ini menimbulkan tekanan pada produksi dan distribusi energi di sejumlah kawasan, termasuk gangguan pada LNG di Qatar, operasional kilang di Arab Saudi, serta penurunan produksi di beberapa negara dan terdampaknya fasilitas strategis.
Meski begitu, pemerintah memastikan terus memantau perkembangan global dan menyiapkan langkah mitigasi yang diperlukan guna menjaga energi nasional, serta mencari beragam sumber pasokan alternatif.
"Melalui langkah antisipatif dan pemantauan yang berkelanjutan, pemerintah tetap memastikan pasokan energi nasional tetap terjaga dan stabil," tegas Laode.
Berikut rincian ICP Maret 2026:
Minyak mentah meningkat US$33,47 per barel, dari US$68,79 per barel menjadi US$102,26 per barel
Harga Brent (ICE) meningkat US$30,23 per barel, dari US$69,37 per barel menjadi US$99,60 per barel.
WTI (Nymex) meningkat US$26,47 per barel, dari US$64,52 per barel menjadi US$91,00 per barel.
Dated Brent meningkat US$32,73 per barel, dari US$71,15 per barel menjadi US$103,89 per barel
Basket OPEC meningkat US$48,13 per barel, dari US$67,90 per barel menjadi US$116,03 per barel
