Jakarta, FORTUNE - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa industri elektronik Indonesia bergeser ke Malaysia dan Vietnam. Hal itu menyebabkan ekspor elektronik kedua negara mencapai 40 persen.
Airlangga mengatakan bahwa Indonesia sempat menganggap industri elektronik yang tidak padat karya kurang sesuai untuk dikembangkan di dalam negeri. “Karena industri elektronik itu robotik. Dan kota merasa bahwa industri itu tidak padat karya, maka dia tidak punya hak untuk hidup di Republik. Nah karena itu mereka pindah ke Vietnam dan juga Malaysia,” ujar Airlangga dalam
Selain itu, ekonomi kedua negara tersebut juga akhirnya bisa tumbuh tinggi disebabkan oleh masifnya perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Di Vietnam, Airlangga mengatakan bahwa luasnya mencapai 1,8 juta hektare dan Malaysia 2 juta hektare. Indonesia sendiri baru mencatatkan luas KEK sebesar 24 ribu hektare.
“Jadi ini nyata bagaimana mereka bisa menarik investasi. Ke depan, kita hanya bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen dengan investasi,” ujarnya.
Sebagai catatan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia mencatatkan total realisasi investasi di KEK sejak 2012 mencapai Rp 353 triliun atau sekitar US$ 19,7 miliar. Realisasi investasi tersebut terdiri dari 471 entitas bisnis yang beroperasi di 25 lokasi KEK. Angka ini diklaim menciptakan penyerapan tenaga kerja terhadap lebih dari 260 ribu orang.
Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi Vietnam tercatat sebesar 9,95 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal Ill 2026, naik dari 8,81 persen pada kuartal II 2026 dan 8,15 persen pada kuartal I 2026.
Sementara itu, ekonomi Malaysia tumbuh 5,3 persen pada kuartal Il 2026. Pertumbuhan ini tercatat lebih rendah dibandingkan pertumbuhaan 6 persen pada kuartal I-2026.
Indonesia sendiri mencatatkan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 tercatat 5,29 persen, setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh sebesar 5,61 persen.
