Inflasi Pangan RI Capai 3,86 Persen, Tertinggi Ketiga dari 6 Negara

Inflasi pangan Indonesia mencapai 3,86 persen secara tahunan pada Agustus 2026, tertinggi ketiga dari enam negara berkembang.
Pada September 2026, inflasi bulanan sebesar 0,30 persen didominasi harga bergejolak, terutama cabai, ayam, beras, dan telur.
BI mencatat inflasi inti September tetap terkendali di 2,8 persen, tetapi akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian.
Jakarta, FORTUNE — Inflasi pangan Indonesia mencapai 3,86 persen secara tahunan pada Agustus 2026. Berdasarkan kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), angka tersebut termasuk yang tertinggi di antara enam negara berkembang, setelah India dan Filipina.
Tekanan harga pangan berlanjut pada September 2026. Inflasi tahunan komponen harga bergejolak (volatile food) naik. Merespons kenaikan tersebut, Bank Indonesia (BI) akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mengendalikan harga pangan.
Table of Content
Perbandingan inflasi pangan RI dan negara berkembang
Berdasarkan perbandingan LPEM FEB UI, India mencatat inflasi pangan tertinggi pada Agustus 2026 sebesar 5,66 persen, diikuti Filipina 4,56 persen dan Indonesia 3,86 persen. Sementara itu, inflasi pangan Thailand mencapai 2,99 persen, Malaysia 1,90 persen, dan Afrika Selatan 0,86 persen.
Di India, kenaikan harga jahe, bawang merah, dan bawang putih turut mendorong inflasi pangan. Sebaliknya, Afrika Selatan mencatat inflasi pangan terendah, meski mulai meningkat setelah sembilan bulan.
Untuk inflasi umum, Indonesia mencatat angka 3,19 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Filipina (6,15 persen), India (4,82 persen), dan Afrika Selatan (4,17 persen), tetapi lebih tinggi daripada Thailand (2,53 persen) dan Malaysia (1,93 persen).
Menurut LPEM FEB UI, inflasi di negara berkembang turut dipengaruhi konflik Timur Tengah yang menjaga harga minyak tetap tinggi serta arah kebijakan suku bunga The Fed. Perbedaan pola konsumsi, pasokan pangan, dan subsidi energi turut memengaruhi tingkat inflasi di masing-masing negara.
Kenaikan harga pangan dorong inflasi September 2026
Pada September 2026, inflasi bulanan Indonesia mencapai 0,30 persen. Komponen harga bergejolak menyumbang 0,24 poin persentase atau sekitar 80 persen dari total inflasi.
Cabai rawit dan cabai merah menjadi penyumbang terbesar, masing-masing sebesar 0,08 dan 0,06 poin persentase. Menurut LPEM FEB UI, kenaikan harga cabai dipicu gangguan pasokan akibat cuaca panas, kemarau panjang, dan keterbatasan air selama fenomena El Niño.
Komoditas lain yang turut menyumbang inflasi adalah daging ayam ras (0,05 poin persentase), beras (0,03 poin persentase), dan telur ayam ras (0,02 poin persentase). Kenaikan harga protein hewani juga dipengaruhi permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan biaya pakan ternak.
LPEM FEB UI turut memperingatkan risiko keterlambatan panen akibat mundurnya awal musim hujan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan dan distribusi pangan.
BI perkuat koordinasi pengendalian harga
Gubernur BI Destry Damayanti menyebut inflasi inti masih terkendali pada 2,8 persen pada September 2026. Namun, inflasi pangan bergejolak yang mencapai sekitar 5 persen perlu menjadi perhatian.
“Untuk inflasi kami juga laporkan untuk inflasi inti yang menggambarkan pergerakan dari perekonomian masih cukup terkendali. Di bulan September, masih 2,8 persen. Memang kami juga laporkan yang memang perlu menjadi perhatian adalah inflasi di pangan, volatile food inflation, yang memang mencapai 5 persen,” ujar Destry seusai rapat terbatas ekonomi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10).
BI akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mengendalikan inflasi pangan dan mengembalikannya ke sasaran nasional sebesar 2,5 persen, dengan deviasi plus-minus 1 persen. Dengan demikian, rentang sasaran inflasi BI berada pada 1,5–3,5 persen.
FAQ seputar inflasi pangan RI
Berapa inflasi pangan RI pada Agustus 2026? Inflasi pangan Indonesia mencapai 3,86 persen secara tahunan.
Negara mana yang memiliki inflasi pangan lebih tinggi dari Indonesia? India dengan 5,66 persen dan Filipina dengan 4,56 persen.
Apa penyumbang utama inflasi pangan bulanan September? Cabai rawit dan cabai merah menjadi penyumbang terbesar.
Apa langkah BI untuk mengendalikan inflasi pangan? BI akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian.























