Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-01-20 at 04.49.35.jpeg
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, saat memaparkan berbagai skenario dan inisiatif strategis yang terintegrasi di seluruh ekosistem InJourney Group, Senin (19/1). (Dok. InJourney)

Intinya sih...

  • InJourney mempercepat elektrifikasi operasional untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

  • Komitmen lingkungan ini dilengkapi dengan program mitigasi iklim.

  • Di luar sektor energi, InJourney menerapkan pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan air dan limbah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Holding BUMN pariwisata dan aviasi, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), menargetkan pengurangan emisi karbon hingga 4.000 ton CO₂e sebagai wujud penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Strategi ini mencakup transisi energi di bandara hingga pengelolaan sumber daya sirkular di destinasi wisata.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyatakan transformasi bisnis yang dilakukan perseroan dalam empat tahun terakhir menjadi fondasi vital bagi masa depan perusahaan.

“Transformasi bisnis yang dilakukan selama empat tahun terakhir telah menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun InJourney menjadi BUMN yang transparan dan akuntabel, serta mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan,” ujar Maya dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (20/1).

Menurut Maya, keberlanjutan adalah bagian tidak terpisahkan dari strategi bisnis perusahaan. Ia menekankan pentingnya meninggalkan warisan (legacy) hijau bagi masa depan.

“Pendekatan ini memastikan bahwa transformasi aviasi dan pariwisata tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan, efisiensi sumber daya, serta meninggalkan legacy hijau yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Visi keberlanjutan tersebut diperkuat oleh kesiapan modal manusia. Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, mengatakan pembangunan fisik saja tidak cukup untuk menopang transformasi pariwisata nasional.

“Program yang baik harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia agar transformasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang,” kata Herdy.

InJourney memacu penggunaan energi baru terbarukan, yang salah satu langkah utamanya adalah instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sembilan bandara utama.

Fasilitas PLTS ini mampu menghasilkan energi terbarukan 10.760 MWh per tahun. Melaluinya, perusahaan berpotensi menghindari emisi hingga 9.860 ton CO₂e per tahun, atau setara dengan kemampuan penyerapan karbon oleh sekitar 272.000 pohon.

Selain itu, perusahaan mempercepat elektrifikasi operasional untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Hingga kini, 716 unit kendaraan listrik telah dioperasikan, mencakup ground support equipment (GSE) di bandara, buggy car, bus listrik, hingga golf cart di berbagai destinasi wisata.

Di luar sektor energi, InJourney menerapkan pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan air dan limbah. Tercatat, pengelolaan limbah padat telah mencapai 7.000 meter kubik, sementara pemanfaatan air daur ulang mencapai lebih dari 1,7 juta meter kubik.

Terobosan signifikan juga dilakukan di kawasan Nusa Dua, Bali. Melalui ITDC, InJourney mengoperasikan fasilitas Seawater Reverse Osmosis (SWRO) yang mampu menghasilkan 331.382 meter kubik air bersih dari air laut.

Fasilitas tersebut menjadikan ITDC sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mengantongi izin Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi, sekaligus mengurangi pengambilan air tanah secara drastis.

Komitmen lingkungan ini dilengkapi dengan program mitigasi iklim melalui penanaman 40.000 mangrove di wilayah operasional untuk memperkuat ekosistem pesisir.

Rangkaian inisiatif hijau ini berjalan beriringan dengan perbaikan portofolio bisnis InJourney lainnya, mulai dari pemugaran Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pengembangan KEK Sanur dan Mandalika, hingga promosi produk lokal lewat Sarinah.

Kinerja solid ini menempatkan InJourney sebagai perusahaan terbesar ke-43 di Tanah Air dalam daftar Fortune Indonesia 100 pada 2025.

Editorial Team