ilustrasi inflasi (pexels.com/pixabay)
Per Oktober 2022, tingkat inflasi Zimbabwe mencapai 269,0 persen dari segi tahunan. Pada November, tingkatnya mencapai 255 persen, level terendahnya sejak lima bulan terakhir.
Inflasi Zimbabwe sendiri sudah mulai turun sejak Agustus 2022 seiring dengan pengetatan langkah-langkah moneter pemerintah dan otoritas moneter. Secara bulanan, Bank Cadangan Zimbabwe menyebut harga konsumen naik 1,8 persen; terendah dalam 19 bulan terakhir.
Inflasi tahunan Lebanon melambat ke level terendah selama 13 bulan terakhir, yakni 158,46 persen per Oktober. Lebih rendah dari 162,47 persen pada September. Secara bulanan, harga konsumen naik 14,65 persen pada Oktober, tertinggi dalam 10 bulan, naik dari 8,40 persen pada September.
Melansir Trading Economics, tingkat inflasi di Venezuela menurun dari 157,40 persen pada September 2022 menjadi 155,80 persen pada Oktober 2022. Berdasarkan proyeksi, tingkat inflasi Venezuela akan mencapai 80,00 persen pada akhir kuartal IV 2022. Tapi, dalam jangka panjang, tingkat inflasinya diperkirakan mencapai 40,00 persen pada 2023 dan 150,00 persen pada 2024.
Central Bureau of Statistics, Syrian Arab Republic menyebut, tingkat inflasi di Suriah menyentuh 139,00 persen pada Agustus 2022.
Sementara itu, Sudan Central Cureau of Statistics mengatakan, tingkat inflasi di Sudan turun dari 107,30 persen pada September 2022 menjadi 102,60 persen pada Oktober 2022.
Pada November 2022, inflasi Argentina ada di level 92,40 persen. Angka itu meningkat dari 88,00 persen sebulan sebelumnya.
Di sisi lain, inflasi tahunan Turki melambat pada November 2022 menjadi 84,40 persen; dari sebelumnya 85,50 persen pada Oktober. Itu sejalan dengan ekspektasi pasar, yakni 84,70 persen. Kenaikan lebih tinggi terjadi di sektor transportasi. Tapi, harga perumahan dan utilitas; perabotan, peralatan rumah tangga, dan pemeliharan rutin; pakaian dan alas kaki; dan hotel-restoran justru menurun.