Kemenperin Dorong Industri Bangkit lewat Mesin Baru dan Green Packaging

- Kemenperin mendorong modernisasi industri melalui program restrukturisasi mesin, dengan penggantian biaya 25–40 persen bagi IKM dan skema berbeda untuk industri besar.
- Pemerintah mengembangkan kemasan ramah lingkungan, bioplastik, ekonomi sirkular, EPR, serta standar SNI bahan kemasan pangan untuk menjaga keamanan dan mengurangi dampak lingkungan.
- ALLPack Indonesia 2026 diikuti lebih dari 1.600 peserta dari 42 negara, mempertemukan industri dengan teknologi, mitra bisnis, investasi, dan solusi rantai pasok.
Jakarta, FORTUNE – Pemerintah mendorong peningkatan daya saing industri nasional melalui modernisasi mesin produksi dan pengembangan kemasan ramah lingkungan (green packaging). Salah satu upayanya dilakukan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan yang memberikan penggantian sebagian biaya pembelian mesin kepada pelaku usaha sesuai kriteria.
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, mengatakan fasilitas tersebut terbuka bagi berbagai sektor, mulai dari industri makanan dan minuman, hasil hutan dan perkebunan, hingga industri kecil dan menengah (IKM). “Kementerian Perindustrian terus mendorong modernisasi teknologi melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan,” ujarnya, dalam seremoni pembukaan ALLPack Indonesia 2026, di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).
Melalui program tersebut, pelaku IKM berpeluang memperoleh pengembalian biaya pembelian mesin sebesar 25–40 persen. Adapun industri besar bisa mendapatkan penggantian sebesar 30 persen untuk pembelian mesin produksi dalam negeri dan 10 persen untuk mesin impor. Khusus industri besar, harga mesin yang diajukan dalam program ini minimal Rp300 juta.
Selain peningkatan teknologi produksi, Sarmuji mengatakan pemerintah juga menaruh perhatian pada pengembangan kemasan yang lebih ramah lingkungan. “Kementerian Perindustrian terus mendorong inovasi kemasan, termasuk pengembangan bioplastik sebagai alternatif pengganti plastik konvensional,” katanya.
Upaya tersebut turut diarahkan pada penerapan ekonomi sirkular melalui penggunaan kembali dan daur ulang material kemasan. Pemerintah juga mendorong penerapan tanggung jawab produsen atas pengelolaan kemasan setelah digunakan konsumen atau extended producer responsibility (EPR). Dari sisi standardisasi, Kemenperin telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 6 Tahun 2025 mengenai pemberlakuan standar nasional Indonesia (SNI) wajib untuk kertas dan karton yang digunakan sebagai bahan baku kemasan primer pangan.
Ketentuan tersebut sejalan dengan Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2026 tentang Kemasan Pangan. Regulasi ini bertujuan memastikan bahan kemasan memenuhi standar keamanan dan tidak melepaskan cemaran yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Pemerintah juga menyediakan sejumlah fasilitas untuk mendukung iklim usaha, termasuk insentif perpajakan, super deduction tax, pemanfaatan preferensi tarif, pengaturan larangan dan pembatasan, serta penyederhanaan prosedur ekspor produk jadi dan impor bahan baku maupun bahan penolong.
“Selain itu, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui berbagai fasilitas, antara lain insentif perpajakan, super deduction tax, pemanfaatan preferensi tarif, penetapan ketentuan larangan dan pembatasan, serta kemudahan prosedur ekspor produk jadi dan impor bahan baku maupun bahan penolong,” katanya.
Dorongan modernisasi teknologi dan pengembangan kemasan tersebut menjadi salah satu isu dalam penyelenggaraan ALLPack Indonesia 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, pada 20–23 Oktober 2026. Memasuki tahun penyelenggaraan ke-25, pameran yang digelar Krista Exhibitions Group itu diikuti lebih dari 1.600 peserta dari 42 negara, termasuk 10 pelaku IKM.
Pameran tersebut mencakup teknologi pengemasan, pengolahan, plastik, percetakan, daur ulang, otomasi industri, hingga farmasi. Berbagai sektor itu berkaitan dengan kebutuhan industri untuk meningkatkan efisiensi produksi, mengadopsi teknologi baru, serta menyesuaikan proses bisnis dengan tuntutan pasar.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan pameran dapat membuka akses pelaku usaha terhadap teknologi dan mitra bisnis dari dalam maupun luar negeri. ALLPack Indonesia 2026 dapat menjadi katalis industri nasional melalui akses terhadap teknologi, inovasi, dan peluang kerja sama global.
"Pameran ini tidak hanya menjadi tempat bertemunya pelaku industri, tetapi juga mendorong lahirnya solusi yang mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing industri. Dengan mempertemukan pelaku usaha, produsen, dan penyedia teknologi dari dalam maupun luar negeri, daat membuka peluang investasi, memperkuat rantai pasok, serta mendorong industri Indonesia untuk terus berkembang dan bersaing di pasar global," kata Daud.
Selama empat hari pelaksanaan, penyelenggara menargetkan lebih dari 90.000 pengunjung bisnis dari lebih dari 30 negara. Kehadiran peserta dan pengunjung diharapkan dapat membuka peluang kemitraan, memperluas jaringan usaha, serta mempertemukan kebutuhan industri dengan penyedia teknologi. Rangkaian acara tersebut juga mencakup pameran pendukung, yakni ALLPlas, ALLProcess, ALL Beverage Technology, IPEX, dan FoodTech Indonesia. Masing-masing menghadirkan cakupan teknologi yang berbeda, mulai dari industri plastik dan proses produksi hingga teknologi minuman, percetakan, dan pengolahan pangan.
Di sektor penyimpanan dan distribusi, ALL Cold Chain menampilkan teknologi rantai pendingin, fasilitas penyimpanan bersuhu terkendali, serta solusi distribusi produk yang membutuhkan pengaturan suhu. Indonesia Maritime & Logistics Expo menghadirkan teknologi dan solusi di bidang maritim, transportasi, pergudangan, serta logistik.
Sementara itu, ALL Agri Expo berfokus pada mesin, peralatan, dan teknologi agribisnis untuk mendukung kegiatan produksi hingga pengolahan hasil pertanian. Keterhubungan berbagai sektor tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan daya saing industri tidak hanya bergantung pada mesin produksi, tetapi juga pada ketersediaan bahan baku, kualitas kemasan, penyimpanan, dan kelancaran distribusi. Bagi pelaku usaha, tantangan berikutnya adalah menentukan investasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan operasional dan mampu meningkatkan efisiensi dalam jangka panjang.






















