Sebagian besar minyak dan LNG yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia. EIA memperkirakan 84 persen minyak mentah dan 83 persen LNG yang melintasi selat itu menuju Asia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi importir utama.
China merupakan pembeli terbesar minyak Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio merespons laporan persetujuan parlemen Iran untuk menutup selat pada 2025.
“Saya mendorong pemerintah China di Beijing untuk menghubungi mereka tentang hal itu, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka,” kata Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional, dilansir Economic Times, Senin (23/6).
Beberapa negara memiliki jalur alternatif terbatas. Arab Saudi mengoperasikan pipa Timur-Barat berkapasitas 5 juta barel per hari menuju Laut Merah. UEA memiliki pipa Habshan–Fujairah dengan kapasitas 1,5 juta barel per hari.
Namun kapasitas tersebut tidak sebanding dengan total volume harian yang melintasi Hormuz. Kuwait, Qatar, dan Bahrain tidak memiliki rute alternatif laut, sementara Iran sendiri juga bergantung pada selat ini untuk ekspor minyaknya.
Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam sistem energi global. Volume minyak dan gas yang melintasinya, konsentrasi pasar Asia sebagai pembeli utama, serta keterbatasan jalur alternatif menempatkan kawasan ini dalam perhatian pelaku pasar, pemerintah, dan pelaku industri logistik setiap kali eskalasi geopolitik terjadi.
Kenapa Selat Hormuz penting bagi dunia? | Karena sekitar 20 juta barel minyak per hari dan hampir seperlima pasokan LNG dunia melewati jalur ini. |
Siapa yang paling bergantung pada Selat Hormuz? | Negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi importir utama minyak dan LNG yang melintasi selat tersebut. |
Apa dampak jika Selat Hormuz ditutup? | Penutupan dapat memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu rantai pasok energi serta pengiriman internasional. |