Jakarta, FORTUNE - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah mewanti-wanti dunia mengenai keseriusannya mencaplok Greenland.
Pernyataan yang muncul setelah operasi militer luar biasa Amerika Serikat di Venezuela ini memicu kewaspadaan tinggi di Denmark dan wilayah otonom Greenland.
Trump menegaskan AS harus memiliki Greenland karena alasan keamanan nasional yang vital bagi negeri tersebut, juga Eropa. Meski menyatakan tidak memiliki tenggat khusus, ia menekankan kebutuhan tersebut bersifat segera.
Berdasarkan laporan CNN, pulau dengan luas lebih dari 1,3 juta km persegi ini terletak di antara AS dan Eropa, tepat di atas celah GIUK (akronim untuk Greenland, Iceland/Islandia, dan UK/Inggris).
Jalur maritim ini merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan Arktik dengan Samudra Atlantik, yang menjadikannya aset pertahanan yang sangat diprioritaskan Washington selama lebih dari 150 tahun.
Trump secara tegas membantah penguasaan sumber daya alam menjadi motifnya. Namun, laporan The Guardian menunjukkan fakta sebaliknya.
Greenland menyimpan deposit mineral tanah jarang sangat besar. Komoditas itu merupakan bahan baku kritis untuk industri telekomunikasi yang saat ini didominasi oleh Tiongkok.
Selain itu, terdapat cadangan minyak dalam jumlah miliaran barel, gas alam, serta uranium.
Trump mengklaim kapal-kapal Rusia dan Cina berada di berbagai titik di sekitar wilayah tersebut. Sebaliknya, Dr. Peter Viggo Jakobsen dari Royal Danish Defence College menyatakan kepada Sky News bahwa ancaman tersebut hanyalah imajinasi Trump.
Menurut Jakobsen, Cina tidak mengoperasikan kapal perang di wilayah Arktik, dan kehadiran kapal selam Rusia sangat jarang terjadi. Ia justru berpendapat bahwa saat ini tidak ada ancaman eksternal bagi Greenland kecuali dari AS.
Upaya AS untuk mengakuisisi Greenland sebenarnya bukan fenomena baru. CNN melansir bahwa pada 1867, Menteri Luar Negeri AS, William H. Seward, menyarankan pembelian Greenland dan Islandia setelah berhasil membeli Alaska dari Rusia.
Ambisi ini berlanjut pada 1910 ketika Duta Besar AS, Maurice Francis Egan, mengusulkan pertukaran wilayah Mindanao di Filipina dengan Greenland.
Puncaknya terjadi pada 1946 saat Presiden Harry Truman mengajukan penawaran rahasia senilai 100 juta dolar AS dalam bentuk emas untuk membeli pulau tersebut.
Meskipun tawaran itu ditolak oleh Denmark, AS diizinkan membangun pangkalan militer yang kini dikenal sebagai Pituffik Space Base.
Dalam era kepemimpinan AS saat ini, Trump telah menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus untuk memimpin upaya agar Greenland menjadi bagian dari wilayah AS.
Pemerintah AS saat ini mempertimbangkan berbagai opsi untuk mencapai tujuannya.
The Guardian melaporkan adanya kemungkinan kesepakatan asosiasi bebas (Compact of Free Association), tempat Greenland merdeka, tapi menyerahkan urusan pertahanan sepenuhnya kepada AS.
Meskipun begitu, tantangan besar mengadang karena jajak pendapat menunjukkan 85 persen penduduk Greenland menolak menjadi bagian dari AS.
Opsi penggunaan kekuatan militer pun tetap tidak dikesampingkan oleh Gedung Putih. Analis AS berpendapat menguasai ibu kota Nuuk hanya memerlukan waktu beberapa menit karena Greenland tidak memiliki tentara teritorial.
Sebaliknya, analis Denmark memperingatkan bahwa cuaca Arktik yang ekstrem dan pertahanan Denmark yang sudah ditingkatkan akan membuat tentara AS kewalahan.
