Jakarta, FORTUNE - Pemerintah memastikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) tetap dipertahankan hingga akhir tahun meski nilai tukar rupiah mengalami pelemahan di tengah tingginya ketidakpastian global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah tidak akan secara signifikan membebani anggaran subsidi energi karena pemerintah telah memasukkan asumsi perubahan kurs dan lonjakan harga minyak dunia dalam simulasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Subsidi BBM masih kita pertahankan sampai akhir tahun. Jadi enggak usah khawatir, itu sudah kita perhitungkan,” ujar Purbaya pada konferensi pers APBN KiTa, Selasa (19/5).
Menurutnya, faktor yang paling mempengaruhi besaran subsidi BBM bukan nilai tukar rupiah, melainkan harga minyak dunia. Pemerintah bahkan telah melakukan simulasi dengan asumsi harga minyak mentah mencapai US$100 per barel sepanjang tahun.
“Dampak pelemahan rupiah relatif kecil terhadap subsidi BBM. Yang besar adalah harga minyak dunia,” katanya.
Ia menjelaskan, asumsi pergerakan rupiah yang lebih lemah dibanding target awal APBN juga sudah dimasukkan dalam perhitungan pemerintah. Oleh sebab itu, pemerintah tidak perlu melakukan penyesuaian besar terhadap kebijakan subsidi energi saat ini.
“Waktu melakukan simulasi, rupiahnya juga sudah bergeser. Jadi enggak harus mengubah apa-apa lagi,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah mengakui ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menahan harga komoditas global di level tinggi. Selain minyak, harga crude palm oil (CPO), emas, dan tembaga juga mengalami kenaikan.
Meski rupiah masih berada dalam tekanan, pemerintah optimistis nilai tukar akan kembali menguat seiring membaiknya sentimen pasar keuangan domestik. Hal itu terlihat dari mulai masuknya aliran dana asing ke pasar obligasi Indonesia.
“Kita sudah melihat ada perbaikan sentimen ke pasar obligasi. Dana mulai masuk ke sini dan saya pikir ke depan akan lebih banyak yang masuk sehingga rupiah akan menguat,” katanya.
