Wamenko Dradjad Sebut MSCI Tak Selalu Benar, Minta Investor Perkuat Analisis

Dradjad Hari Wibowo menilai penilaian MSCI tidak selalu benar dan meminta investor menyikapinya secara bijak.
Ia mendorong investor, pelaku pasar modal, dan broker di Indonesia memperkuat analisis serta model mereka secara independen.
Pemerintah tetap berupaya mereformasi tata kelola pasar modal, sementara MSCI menyoroti transparansi dan aksesibilitas pasar Indonesia.
Jakarta, FORTUNE - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan bahwa penilaian dari MSCI tidak selalu benar. Pernyataan tersebut merespons analisis MSCI yang menyatakan potensi penurunan peringkat saham RI menjadi standalone market.
Dradjad mengatakan bahwa investor perlu lebih secara bijak menanggapi penilaian tersebut. “MSCI itu punya reputasi tinggi, iya. Bahwa kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, iya. Tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka tidak selalu benar,” katanya di Kantor Kemenko Perekonomian di Jakarta, Jamis (16/10).
Dradjad menjelaskan bahwa tidak semua yang dilakukan oleh MSCI menguntungkan bagi investor. “Ketika DAX, itu apa namanya, bursa Jerman, itu naik tinggi, MSCI World, yang betul-betul dianggap dunianya MSCI, ya saham-saham yang direkomendasikan MSCI, malah negatif. Artinya apa? Artinya tidak semua yang dilakukan oleh MSCI itu menguntungkan bagi investor,” ujarnya.
Dalam berbagai simulasi, Dradjad menemukan bahwa return yang diperoleh dari MSCI itu lebih rendah dibandingkan return yang diperoleh dari lembaga lain. “Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70 persen didominasi saham Amerika. Kemudian 30 persen didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ. Maksudnya bukan bias Amerika,” katanya.
Ia berpesan bagi para investor maupun para pelaku pasar modal, para broker di Indonesia untuk menjadi lebih independen. “Perkuat analisis kalian, perkuat model-model kalian,” ujarnya.
Sebagai catatan, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net foreign sell) sebesar Rp2,92 triliun pada perdagangan sesi I Jumat (16/10). Ketika investor asing melakukan aksi jual bersih besar-besaran, hal ini dinilai bukan hanya disebabkan oleh MSCI melainkan faktor lain. “Yang asing kan karena ikut MSCI dan indeks maupun analisis kan bukan hanya MSCI. Jadi ya nggak apa-apa kalau mereka melakukan itu nggak apa-apa. Malah mungkin dengan asing keluar harga turun, investor dalam negeri silahkan serok aja sekarang,” kata Dradjad.
Meski demikian, Dradjad mengatakan bahwa pemerintah akan tetap berupaya melakukan reformasi di tata kelola pasar modal Indonesia.
Selanjutnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto dijadwalkan akan melaksanakan pertemuan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada hari ini, Jumat (16/10). Meski demikian, tidak terdapat informasi lebih lanjut mengenai waktu pasti dari pertemuan tersebut.
KSSK sendiri terdiri dari Menteri Keuangan Suahasil Nazara; Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti; Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi; dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu.
Sebagai informasi, MSCI membahas usulan penurunan status Indonesia, yang berpotensi turun kasta dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Upaya peninjauan tersebut didorong adanya berbagai catatan kritis dari pihak MSCI terkait transparansi struktur kepemilikan saham yang dinilai masih memerlukan perhatian serius.
Selain masalah keterbukaan informasi, lembaga internasional itu turut menyoroti tingkat kemudahan aksesibilitas bagi para investor serta efektivitas penegakan regulasi yang berlaku di bursa domestik.
Lebih lanjut, MSCI berpandangan hingga saat ini belum terlihat adanya bukti konkret yang cukup kuat mengenai peningkatan tata kelola maupun fungsi pasar yang berjalan secara konsisten di Indonesia.



















