Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
antarafoto-pembukaan-apec-business-advisory-council-meeting-i-2026-1770972225.jpg
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan paparan pada pembukaan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026 di Jakarta, Sabtu (7/2). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

Intinya sih...

  • Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,4 persen, dengan potensi menguat hingga 5,6 persen.

  • Target ini diproyeksi tercapai melalui dorongan kuat dari empat sektor prioritas: pertanian, industri manufaktur, ekonomi digital, dan energi.

  • Pemerintah juga mengandalkan diplomasi ekonomi untuk membuka akses pasar internasional yang lebih luas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,4 persen, dengan potensi menguat hingga 5,6 persen.

Target tersebut diproyeksi tercapai melalui dorongan dari empat sektor prioritas: pertanian, industri manufaktur, ekonomi digital, dan energi.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, saat Indonesia Economic Outlook 2026 di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

Airlangga menjelaskan, berbagai program prioritas Presiden akan menjadi pendorong utama pertumbuhan, antara lain program makan bergizi gratis, Koperasi Desa Merah Putih, serta pembangunan tiga juta rumah.

“Program-program ini diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru yang menyerap tenaga kerja luas, mempercepat produktivitas, dan menggerakkan pembiayaan non-APBN, termasuk melalui Danantara,” ujarnya dikutip dari siaran virtual, Jumat (13/2).

Ia juga mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam setahun (YoY) mencapai 5,11 persen, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh kuat 4,98 persen.

Menurutnya, hal ini mencerminkan bahwa stimulus ekonomi telah tepat sasaran, harga-harga relatif stabil, dan mobilitas masyarakat meningkat berkat momentum hari besar nasional seperti Natal dan Tahun Baru.

“Untuk pertama kalinya, momentum hari besar keagamaan di kuartal IV dan kuartal I terjadi berturut-turut. Pada [kuartal I] kita punya Idul Fitri, yang biasanya juga mendorong puncak pertumbuhan. Karena itu, pemerintah akan terus menggenjot performa ekonomi di kuartal pertama tahun ini,” ujarnya.

Airlangga menegaskan sektor keuangan memiliki peran penting sebagai enabler pertumbuhan. Ia menyoroti stabilnya pasar modal dalam beberapa waktu terakhir.

“Pasar modal kembali positif dan stabil. Minggu ini terjadi rebound yang cukup signifikan,” katanya.

Pemerintah pun sedang menyiapkan reformasi pasar modal yang mencakup peningkatan saham yang beredar di publik dari 7,5 persen menjadi 15 persen, serta peningkatan transparansi pemegang saham, terutama yang memiliki kepemilikan di bawah 5 persen.

Selain itu, batas investasi dana pensiun dan asuransi juga akan dinaikkan dari 10 persen menjadi 20 persen, khusus untuk saham-saham berkualitas seperti LQ45.

Selain penguatan sektor dalam negeri, pemerintah juga mengandalkan diplomasi ekonomi untuk membuka akses pasar internasional yang lebih luas.

Airlangga menyoroti perkembangan signifikan dari berbagai kerja sama internasional, seperti EU–CEPA yang akan membuat bea masuk produk Indonesia menjadi 0 persen pada 2027 dan membuka akses ke 14,7 persen PDB dunia.

Selain itu, Indonesia juga terus memperdalam hubungan dagang dengan Kanada, kawasan Eurasia melalui IAEU, serta Inggris melalui kerja sama Economic Growth Partnership.

Ia juga menyinggung kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat.

Insya Allah dengan Amerika akan segera ditandatangani dalam waktu dekat,” ujarnya.

 

Editorial Team