Jakarta, FORTUNE - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengkaji pemberhentian ekspor beberapa komoditas termasuk timah. Langkah ini ditempuh untuk mendorong hilirisasi sehingga memperkuat ekonomi nasional.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan, hilirisasi merupakan mesin pertumbuhan ekonomi. Contohnya, kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2018-2019, menurutnya telah mendongkrak ekspor nikel hingga 10 kali lipat pada periode 2023-2024.
"Total ekspor nikel kita pada 2018-2019 itu hanya US$,3 miliar. Begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor sudah mencapai US$34 miliar. Inilah yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi merata, menciptakan lapangan pekerjaan," ujar Bahlil pada Indonesia Economic Outlook, dikutip Rabu (18/2).
Maka dari itu, Bahlil berkeinginan menghentikan ekspor barang mentah dan menggantinya dengan komoditas hasil industri hilirisasi dalam negeri demi memperkuat posisi ekonomi Indonesia.
"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah," ujar Bahlil.
Untuk mendukung target ini, Bahlil meminta investor nasional, termasuk perbankan mau menyuntikkan dananya pada proyek tersebut.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penetapan 18 proyek hilirisasi sebagai program prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun. Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor dan ditargetkan mulai berjalan pada tahun ini, termasuk hlirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga kilang minyak.
Produk hasil hilirisasi ditargetkan menjadi barang yang dapat menggantikan barang-barang impor dari luar negeri. Hingga 2040, program ini diyakini akan mendatangkan investasi hingga US$618 miliar. Dari jumlah tersebut, harapannya US$498,4 miliar datang dari subsektor mineral dan batubara (minerba), lalu US$68,3 miliar dari minyak dan gas bumi. Hilirisasi juga diproyeksikan mendatangkan ekspor US$857,9 miliar, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) US$235,9 miliar, hingga lebih dari 3 juta tenaga kerja.
