Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Perang Iran Jadi Bumerang, Kepuasan Publik terhadap Trump Merosot
potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (whitehouse.gov)

Jakarta, FORTUNE - Tingkat kepuasan publik Amerika Serikat terhadap Presiden Donald Trump tercatat menurun. Pelemahan ekonomi yang dipicu konflik yang disebut sebagai ‘perang bodoh’ antara AS dan Iran dinilai menjadi salah satu faktor utama merosotnya dukungan terhadap Trump. Jajak pendapat Reuters/Ipsos selama empat hari yang berakhir pada Minggu (22/3) menunjukkan tingkat kepuasan publik kini berada di angka 36 persen.

Reuters mencatat, angka tersebut turun empat poin dibanding survei pekan sebelumnya yang masih berada di level 40 persen. “Tingkat approval rating (kepuasan publik) Presiden Donald Trump berada di titik terendah sejak ia kembali ke Gedung Putih. Disebabkan oleh lonjakan harga bahan bakar dan ketidaksetujuan yang luas terhadap perang yang dilancarkannya terhadap Iran,” demikian hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis Rabu (25/3).

Penurunan ini mencerminkan memburuknya pandangan warga AS terhadap kinerja Trump, terutama dalam pengelolaan ekonomi dan biaya hidup. Sejak AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran, biaya kebutuhan sehari-hari serta harga bensin disebut meningkat, dengan rata-rata kenaikan sekitar satu dolar per galon. “Hanya 25 persen responden yang puas dalam penanganan Trump terhadap biaya hidup. Dan hanya 29 persen warga AS yang puas atas kepemimpinan ekonomi Trump,” demikian ditulis Reuters.

Meskipun demikian, dukungan terhadap Trump di internal Partai Republik masih relatif kuat. Survei menunjukkan satu dari lima anggota Partai Republik menyatakan tidak puas terhadap kinerja Trump secara keseluruhan. “Sedikit berubah dari sekitar satu dari tujuh anggota Partai Republik pada jajak pendapat sebelumnya,” kata Reuters. Namun, ketidakpuasan terhadap penanganan biaya hidup di kalangan pemilih Partai Republik meningkat menjadi 34 persen dari sebelumnya 27 persen.

Pada awal periode keduanya di Gedung Putih, tingkat kepuasan terhadap Trump sempat berada di kisaran 47 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi 40 persen pada musim panas lalu. “Perang diharapkan dapat mengubah hal itu bagi seorang Trump yang menjabat presiden dengan janji untuk menghindari ‘perang bodoh’ terhadap Iran,” ungkap jajak pendapat tersebut. Namun konflik tersebut justru disebut menjadi faktor yang mempercepat penurunan tingkat kepuasan publik hingga kini tersisa 36 persen.

Survei Reuters juga mencatat perang terhadap Iran hanya mendapat dukungan 35 persen warga AS. Angka tersebut turun dari 37 persen dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan sebelumnya. Sementara itu, 61 persen responden menyatakan tidak setuju dengan keputusan Trump membawa AS ke dalam konflik Israel melawan Iran, meningkat dari 59 persen pada survei sebelumnya.

Dalam survei yang dilakukan pada awal serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari–1 Maret 2026, hanya 27 persen warga AS yang menyatakan setuju terhadap perang dengan Teheran. “Sebanyak 43 persen tidak menyetujui, dan 29 persen tidak yakin,” tulis Reuters. Pada survei yang sama, 46 persen responden menilai konflik dengan Iran akan membuat AS berada dalam situasi yang lebih tidak aman dalam jangka panjang.

“Hanya 26 persen yang mengatakan, itu (perang dengan Iran) akan membuat AS menjadi negara yang lebih aman. Dan sisanya (28 persen) mengatakan itu (perang dengan Iran) tidak banyak berpengaruh,” kata Reuters.

Editorial Team