Jakarta, FORTUNE - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyampaikan perusahaanya telah menggelontrkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 19 persen untuk pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Meski jumlahnya masih rendah, persentase tersebut menurutnya lebih baik ketimbang proporsi capex EBT yang dialokasikanperusahaan-perusahaan energi global hingga saat ini.
"ita lihat rata-rata global energy company berapa sih mereka spending? Itu 9 persen. Jadi yang kami alokasikan sudah lebih besar dari benchmark perusahaan-perusahaan dunia," ujar Nicke di Komisi VII DPR pekan lalu.
Menurut Nicke, jumlah tersebut juga mempertimbangkan kondisi perekonomian domestik yang belum mampu melakukan transisi energi secara drastis. Sebab, hingga saat ini, energi fosil--termasuk BBM yang mereka produksi--masih lebih murah ketimbang EBT.
Jika proporsi capex EBT terlalu besar dan transisi besar-besaran dilakukan, ia khawatir harga energi justru melambung dan menambah beban masyarakat.
"Karena dengan kebutuhan energi yang hari ini sangat besar, kita tidak bisa serta-merta mengalihkan fossil energi ke EBT. Ini yang terjadi di negara lain, jadi kita tetap membalance, dua-duanya kita jalankan (Capex EBT dan non-EBT)," tuturnya.
Di luar capex 19 persen untuk EBT, Nicke mengatakan 60 persen belanja modal perusahaannya diarahkan untuk pengembangan industri hulu migas, dan 30 persen untuk pengembangan kilang. Keduanya memiliki tujuan serupa: yakni meningkatkan pasokan BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat.