Bappenas: Pertanian dan Hilirisasi Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi 10 Persen

PPN/Bappenas menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang menembus 10 persen melalui penguatan sektor pertanian dan hilirisasi.
Rachmat Pambudi mencontohkan Vietnam serta pengalaman Indonesia pada 1970-an dan 1980-an.
Perluasan akses keuangan dinilai mendukung strategi, tetapi pertumbuhan tinggi belum tentu dirasakan kelompok menengah ke bawah.
Jakarta, FORTUNE - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang menembus 10 persen melalui penguatan sektor pertanian serta hilirisasi.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudi mengatakan mencontohkan Vietnam yang mampu mengembangkan sektor pertanian yang mendorong negara tersebut mencapai pertumbuhan di atas 9 persen.
“Kenapa Vietnam begitu maju? Kenapa Vietnam bisa tumbuh sampai di atas 10 persen? Karena pertanian mereka didorong dan ditumbuhkan mulai dari on farm-nya, processing-nya, sampai ekspornya,” ujar Rahmat dalam peluncuran dashboard Indeks Akses Keuangan Daerah (IKAD) yang dilansir secara daring, Senin (19/10).
Menurut Rachmat, Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa dengan memperkuat sektor pertanian sekaligus mendorong hilirisasi. “Kalau itu bisa dikerjakan, maka pertumbuhan ekonomi kita bukan saja 8 persen tapi bisa di atas 10 persen,” kata Rachmat.
Rahmat juga mencontohkan pengalaman Indonesia pada dekade 1970-an dan 1980-an, ketika pertumbuhan sektor pertanian berjalan beriringan dengan pengembangan hilirisasi.
“Mengapa pertumbuhan ekonomi kita pada tahun 70-an, 80-an bisa double digit? Kita melakukan dua hal sekaligus. Pertanian kita tumbuh dengan cepat dan pesat. Hilirisasi kita juga tumbuh dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan, perluasan akses keuangan juga berperan dalam mendukung strategi tersebut.
Di samping itu, ia juga mengatakan bahwa banyak orang mempertanyakan bahwa pertumbuhan ekonomi 8 persen terlihat tinggi. Namun menurutnya, pertumbuhan ekonomi tinggi belum tentu sejalan dengan yang dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah.
“Kalau yang tumbuh adalah kelompok menengah atas dan atas sekali, iya, tinggi. Tapi kalau kelompok menengah bawah yang penghasilannya sebulan baru Rp5 juta, tumbuh 20 persen cuma tambah Rp1 juta. Buat mereka amat sangat kurang,” ujarnya.





















