Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks dari World Gold Council (WGC) menjelaskan mengenai laporan Tren Permintaan Emas Kuartal Keempat dan Sepanjang Tahun 2025 dari WGC.JPG
Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) & Global Head of Central Banks World Gold Council, saat memaparkan Tren Permintaan Emas Kuartal keempat (Q4) dan Sepanjang 2025, di Jakarta (4/2/2026). Dok: World Gold Council

Intinya sih...

  • Pasar emas global mencapai rekor permintaan 5.000 ton untuk pertama kalinya.

  • Nilai transaksi global melonjak 45 persen dalam setahun menjadi US$555 miliar.

  • Bank sentral tetap menjadi pemegang signifikan dengan total pembelian bersih mencapai 863 ton sepanjang 2025.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pasar emas global menorehkan sejarah baru sepanjang 2025. Berdasarkan laporan "Tren Permintaan Emas Kuartal Keempat dan Sepanjang Tahun 2025" yang dilansir oleh World Gold Council, total permintaan emas dunia, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), telah melampaui ambang batas 5.000 ton untuk pertama kalinya.

Fenomena tersebut diperkuat oleh reli harga yang memecahkan 53 rekor tertinggi sepanjang masa, yang secara akumulatif mendorong nilai transaksi global melonjak 45 persen dalam setahun (YoY) menjadi US$555 miliar.

Lonjakan didorong oleh arus masuk modal besar-besaran ke sektor investasi. Kepemilikan ETF emas global tumbuh signifikan sebesar 801 ton, dan mencetak tahun terkuat kedua dalam sejarah.

Investor institusional, terutama di Amerika Utara, semakin agresif menambah posisi emas dalam portofolionya. Itu dilakukan sebagai langkah mitigasi terhadap valuasi saham yang sudah sangat tinggi, serta volatilitas di pasar obligasi.

Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) & Global Head of Central Banks World Gold Council, menyoroti adanya pergeseran struktural yang mendalam dalam peta kekuatan cadangan emas dunia.

"Dulu, 20 tahun lalu, hampir seluruh [bank sentral] pemegang utama [emas] adalah negara-negara Barat. Kini, kita melihat Tiongkok, India, dan Rusia telah masuk dalam jajaran 10 besar pemegang emas global di sektor resmi. Urutannya telah berubah; Amerika Serikat tetap di posisi pertama, diikuti Jerman, sementara Rusia kini telah menyodok ke posisi kelima," ujar Fan dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (4/2).

Bank sentral tetap menjadi pemegang signifikan dengan total pembelian bersih mencapai 863 ton sepanjang 2025. Bank Nasional Polandia tercatat sebagai pembeli paling dominan dengan tambahan 102 ton, memperkuat cadangan emasnya menjadi 28 persen dari total cadangan devisa.

Strategi serupa juga dilakukan oleh Kazakhstan dan Brasil. Ini menunjukkan bahwa emas masih menjadi aset jangkar strategis di tengah polarisasi geopolitik dunia.

Namun, rekor harga yang terus memuncak menciptakan anomali pada sektor riil. Volume konsumsi perhiasan global jatuh ke level terendah dalam lima tahun menjadi 1.542 ton.

Meski volume menyusut, nilai belanja nominal konsumen justru meroket 18 persen ke rekor US$172 miliar.

Di Tiongkok, kebijakan baru mengenai PPN sempat menekan pasar perhiasan. Tetapi, hal ini justru mendorong investor ritel beralih ke produk investasi emas fisik seperti batangan dan koin yang memiliki margin lebih rendah.

Di Asia Tenggara, Indonesia menghadapi dinamika perekonomian domestik yang menantang. Tekanan biaya hidup memaksa konsumen beralih ke produk perhiasan berkadar karat lebih rendah, terutama di bawah 14 karat.

Dari sisi hulu, produksi tambang Indonesia di Grasberg tercatat mengalami kontraksi 24 persen akibat insiden longsor lumpur pada kuartal ketiga 2025. Pemerintah Indonesia juga merespons volatilitas ini dengan memberlakukan sistem pajak ekspor bertingkat demi mengamankan pasokan dalam negeri.

Mengenai potensi pasar regional lainnya, Fan memberikan catatan khusus pada daya tarik emas di Thailand.

"Lanskap di Thailand menunjukkan emas sangat diminati baik oleh ritel maupun institusi. Di tengah pasar saham lokal yang cenderung lesu, manajer aset meluncurkan reksa dana emas sebagai sarana diversifikasi wajib dari ekuitas dan obligasi," ujarnya.

Pada sisi pasokan, total suplai emas dunia naik tipis 1 persen menjadi 5.002 ton, didorong oleh estimasi produksi tambang yang mencapai rekor 3.672 ton.

Industri pertambangan mulai mengadopsi strategi lindung nilai (hedging) yang lebih hati-hati dengan memilih opsi jual demi menjaga harga dasar tanpa mengorbankan potensi keuntungan saat harga kembali reli.

Pada 2026, emas diproyeksikan tetap menjadi primadona.

Ketegangan geopolitik yang belum mereda, ekspektasi pemangkasan suku bunga riil, serta ketidakpastian independensi bank sentral di beberapa negara maju menjadi katalis kuat bagi berlanjutnya tren bullish.

Editorial Team