Jakarta, FORTUNE -Jutaan pekerja di berbagai negara tengah bersiap menghadapi potensi pemutusan hubungan kerja dan restrukturisasi akibat kecerdasan buatan (AI). Namun sebagian generasi Z bahkan belum sempat menapaki tangga karier korporasi, dan semakin banyak di antaranya adalah perempuan muda.
Laporan terbaru Women in Work Index dari PricewaterhouseCoopers (PwC), yang menganalisis data Labour Force Survey terhadap kelompok usia 16–24 tahun sepanjang 2020 hingga 2024, menunjukkan sekitar 1 juta anak muda di Inggris kini tergolong NEET (not in education, employment, or training), yakni tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.
Tingkat pengangguran perempuan sebenarnya sempat menurun sejak pertengahan 2010-an, kecuali lonjakan selama pandemi COVID-19. Namun tren positif itu kini berbalik arah. Pada 2024, tingkat pengangguran perempuan muda melonjak dari 9,5 persen menjadi 11,8 persen, mencatat kenaikan tahunan tercepat sejak indeks PwC mulai diterbitkan.
Data terbaru Office for National Statistics (ONS) yang dirilis bulan lalu juga memperlihatkan tren serupa. Tingkat NEET secara keseluruhan naik menjadi 12,8 persen, dan kenaikan ini hampir sepenuhnya didorong oleh perempuan. Sementara jumlah pria muda yang tidak bekerja justru menurun secara kuartalan, sekitar 13.000 perempuan muda baru keluar dari pasar kerja.
Meski jumlah pria muda yang tidak bekerja masih sedikit lebih banyak secara keseluruhan, kesenjangan tersebut kini mulai menyempit dengan cepat. Dengan kata lain, komposisi pengangguran di kelompok usia muda semakin didominasi perempuan.
Melansir Fortune.com, ada pergeseran makna dalam pengangguran. Hanya dua tahun lalu, kelompok NEET justru didominasi pria muda. Ketika Fortune pertama kali menyoroti tren ini pada 2024, satu dari lima pria di bawah usia 25 tahun menganggur dan bahkan tidak aktif mencari pekerjaan, meskipun baru saja lulus.
Saat itu, para pakar menilai penyebab utamanya adalah fleksibilitas perempuan dalam menerima pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan aspirasi karier mereka setelah pandemi. Sebaliknya, banyak lulusan pria Gen Z menunggu pekerjaan impian yang tidak kunjung datang karena jumlah posisi white-collar menyusut. Alih-alih mengambil pekerjaan paruh waktu atau posisi entry-level di luar bidangnya, mereka memilih mundur dari pasar kerja. Lalu, apa yang menjadi penyebab tingginya pengangguran di kalangan perempuan Gen Z?
