Jakarta, FORTUNE - Di peta bisnis Indonesia, nama Grup Lippo dan Grup Ciputra kerap identik dengan sektor-sektor padat modal—dari properti hingga ritel. Kedua konglomerasi ini dikenal sebagai pengembang kota, pembangun infrastruktur, hingga pelaku bisnis yang memengaruhi gaya hidup jutaan orang. Namun di balik deretan proyek prestisius dan ekspansi bisnis yang luas, ada investasi lain yang tak selalu terlihat dalam neraca keuangan: pendidikan.
Bagi sebagian konglomerasi, sekolah dan universitas memang hanya menyumbang porsi kecil dalam portofolio bisnis. Tetapi bagi para pendiri grup usaha besar ini, pendidikan justru menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya. Mereka meyakini, pembangunan bangsa tidak cukup hanya ditopang oleh beton dan infrastruktur fisik. Ada fondasi lain yang jauh lebih menentukan: manusia.
Lebih dari tiga dekade lalu, tepatnya pada 1986, almarhum Ciputra mengambil langkah yang tidak lazim bagi seorang pengembang properti. Ia menyisihkan dana pribadi sekitar Rp15 miliar—jumlah yang sangat besar pada masa itu—sebagai modal awal untuk mendirikan Yayasan Ciputra Pendidikan.
Menurut Harun Hajadi, menantu Ciputra yang kini menjabat Ketua Dewan Pengurus Harian yayasan tersebut, keputusan itu berangkat dari keyakinan sederhana sang pendiri. “Beliau bilang, pendidikan adalah satu-satunya alat untuk bisa memajukan bangsa ini. Tanpa pendidikan, forget it, kita enggak akan ke mana-mana,” kata Harun kepada Fortune Indonesia.
Semangat itu kemudian melahirkan Sekolah Ciputra yang mulai beroperasi pada 1987 di kawasan Citraland, Surabaya. Sekolah ini termasuk pelopor International Baccalaureate (IB) Kontinum, yang memungkinkan siswa belajar dengan standar internasional sejak playgroup hingga kelas 12. Pilihan untuk mengusung kurikulum internasional bukan tanpa alasan. Menurut Harun, negara sebenarnya telah menyediakan pendidikan umum. Namun keluarga Ciputra ingin melahirkan sesuatu yang berbeda. “Akarnya adalah keyakinan bahwa pendidikan seharusnya tak hanya melahirkan lulusan, tapi juga mencetak wirausahawan yang bisa berkontribusi bagi Indonesia,” ujarnya.
Di sekolah ini, siswa tidak hanya belajar teori. Mereka didorong mengerjakan proyek nyata melalui pendekatan project-based learning. Bahkan pada tahap akhir pendidikan, siswa diminta merancang dan menjalankan mini startup, mulai dari perencanaan modal hingga strategi pemasaran. Dari keberhasilan Sekolah Ciputra, yayasan kemudian mengembangkan jaringan pendidikan lain seperti Sekolah Citra Kasih dan Citra Berkat. Kedua sekolah ini dirancang lebih inklusif agar menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama pada masa ketika akses sekolah berkualitas masih terbatas.
Langkah tersebut juga berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Pada 2006, Universitas Ciputra didirikan dengan entrepreneurship sebagai inti kurikulum. “Entrepreneurship-lah yang bisa mengeluarkan bangsa Indonesia dari kemiskinan,” kata Harun.
Untuk menanamkan semangat itu, universitas menerapkan sistem belajar unik bernama Reboan. Setiap hari Rabu, mahasiswa mengikuti kuliah umum, diskusi dengan praktisi bisnis, mentoring, hingga workshop kewirausahaan. Lebih dari sekadar teori, mahasiswa bahkan diwajibkan memiliki usaha sebelum lulus.
