Jakarta, FORTUNE - Film Agak Laen: Menyala Pantiku! alias Agak Laen 2 mencetak rekor baru menjadi film terlaris sepanjang masa.
Dikutip dari laman Cinepoint, hingga 16 Maret 2025 tercatat telah ditonton sebanyak 10.980.933 penonton dengan jadwal tayang sebanyak 170.914 sejak November 2024.
Agak Laen bisa dibilang dimulai dari obrolan sederhana di garasi rumah. Digawangi oleh Bene Dion (35), Boris Bokir (37), Indra Jegel (36), dan Oki Rengga (35), empat komika asal Sumatra Utara ini memulai dengan obrolan ringan karena sering berkumpul bersama saat masa pandemi COVID, ketika aktivitas stand up menurun dan waktu luang justru mempertemukan mereka lebih sering. Kemudian, tercetuslah membuat podcast yang kala itu sedang ramai.
"Sebelum COVID itu kami punya karir masing-masing. Tapi karena COVID pekerjaan jarang, dan kami suka ngumpul. Nah, saat ngumpul itulah kita kepikiran untuk membuat podcast karena saat itu juga podcast memang sedang ramai," begitu kata Bene Dion kepada Fortune Indonesia belum lama ini.
Podcast terbilang lancar. Pendengar bertambah, karakter terbentuk, nama Agak Laen makin dikenal. Di titik itu kemudian, ide gila tercetus untuk melanjutkan ke layar lebar.
Dalam sebuah sesi podcast bersama Ernest Prakasa, Founder Imajinari, empat komika ini sempat melontarkan ide yang terdengar santai—namun sarat keberanian: membuat film dengan diri mereka sendiri sebagai pemeran utama.
Tak banyak yang menyangka, gagasan yang awalnya terasa “nekat” itu justru berhasil diwujudkan. Film Agak Laen yang dirilis pada Februari 2024 mencatatkan sekitar 9,12 juta penonton, jauh melampaui ekspektasi awal mereka yang bahkan menganggap satu juta penonton sudah menjadi pencapaian besar.
Berangkat dari kesuksesan tersebut, Agak Laen melanjutkan kiprahnya di industri layar lebar, menandai babak baru dalam perjalanan para komika ini di dunia perfilman.
Meski demikian, keempatnya mengaku tidak pernah membayangkan film tersebut akan meledak sebesar itu. Bene Dion Rajagukguk menilai, dalam banyak kasus, film lanjutan justru menghadapi tantangan yang lebih besar. Sekuel kerap sulit melampaui film pertama, baik dari sisi kualitas maupun jumlah penonton. Karena itu, sejak awal mereka memilih memasang ekspektasi rendah terhadap proyek berikutnya—tanpa beban untuk harus mengulang, apalagi melampaui, kesuksesan sebelumnya.
Menariknya, jika Agak Laen terus berlanjut, konsep yang diusung tidak akan mengikuti pola sekuel konvensional. Para pemerannya mengungkapkan bahwa setiap film ke depan dirancang sebagai cerita yang berdiri sendiri, dengan pendekatan yang lebih fleksibel dalam mengeksplorasi ide dan karakter.
Bene juga menekankan soal konsistensi, maka dari itu hingga film kedua, formasi pemeran utama dan tim produksi tidak berubah: produser yang sama, penulis yang sama, sutradara yang sama. Mereka memilih menjaga formasi, dengan harapan kualitas dan rasa yang dibangun sejak film pertama tetap terjaga.
Meski berangkat dari dunia stand-up comedy, Bene menilai ada modal kuat yang sudah dimiliki para komika ketika masuk ke dunia akting. Maka dari itu film ini bisa diterima masyarakat.
Di atas panggung, stand-up comedian terbiasa menghafal materi, mengatur gesture, serta memainkan ekspresi. Semua itu, menurutnya, menjadi bekal penting saat berakting di film, meski tetap ada aspek teknis lain yang perlu dipelajari. Ini juga alasan mengapa banyak komika akhirnya menyeberang ke dunia akting—karena fondasinya sudah terbentuk sejak di panggung.
