Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ilustrasi: perlu waspada terhadap tindakan love scamming. (Dok.123RF)
Ilustrasi: perlu waspada terhadap tindakan love scamming. (Dok.123RF)

Intinya sih...

  • Love scam marak, korban kerugian Rp49 miliar

  • Pelaku memanfaatkan hubungan palsu untuk meminta data keuangan dan uang

  • Penipuan terorganisir lintas negara, OJK edukasi masyarakat dan jasa keuangan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Penipuan dengan skema love scam tengah marak terjadi dan memakan banyak korban. Modus yang digunakan pelaku ialah berupaya mendekati dan menciptakan hubungan spesial dengan korban. 

Setelah korban terperangkap oleh hubungan yang semu, pelaku memanfaatkan kelemahan perasaan korban dengan meminta data keuangan hingga pembelian barang dan koin digital untuk membuka konten dewasa di dalam aplikasi.

Hal itu sempat diceritakan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi. Bahkan, berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) sepanjang 2025, terdapat 3.494 laporan kerugian masyarakat yang terkena scam melalui modus love scam, dengan total kerugian mencapai Rp49,198 miliar.

“Para korban ini dimanipulasi secara emosinya, merasa memiliki hubungan atau relationship kemudian secara persuasi secara sukarela transfer sejumlah uangnya karena merasa memiliki hubungan,” kata Friderica saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/1).

Modus penipuan love scam terorganisir lintas negara

Polresta Yogyakarta mengungkap industri penipuan digital lintas negara bermodus love scamming. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Bahkan kasus yang terbaru, Polisi telah mengungkap aktivitas penipuan love scam bernama PT Altair Trans Service yang beroperasi di Sleman, Yogyakarta. Wanita yang akrab dipanggil Kiki ini menjelaskan, hasil penyelidikan polisi menyatakan bahwa perusahaan ini perpanjangan tangan dari operator aplikasi kencan yang berbasis di China. 

Hal ini menandakan praktik love scam terorganisir dalam lintas negara. Tak tanggung-tanggung, korban love scam ini berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, hingga Australia. “Ini menjadi satu tren kejahatan finansial digital yang sedang meningkat jumlahnya dan dilakukan secara global oleh sindikat-sindikat tersebut,” katanya.

Untuk itu, OJK bersama dengan seluruh regulator yang tergabung dalam IASC juga terus melakukan edukasi ke masyarakat dengan mengimbau agar berhati-hati dalam menjalin hubungan. Di sisi lain, industri jasa keuangan juga diharapkan semakin waspada terkait modus tersebut dan mengedukasi setiap nasabahnya.

Editorial Team