Comscore Tracker
SHARIA

Industri Halal Jadi Jembatan Kolaborasi AntarnegaraASEAN

Indonesia berpeluang menjadi pusat produsen halal dunia.

Industri Halal Jadi Jembatan Kolaborasi AntarnegaraASEANPengunjung melihat produk fesyen bersertifikasi halal yang dipajang dalam pameran Malang Islamic Movement di Mall Dinoyo City Malang, Jawa Timur, Kamis (2/12/2021). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/hp.

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Industri halal menjadi jalan yang berpotensi tinggi menjadi jalan untuk membangun kemitraan antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dengan perusahaan di Uni Emirat Arab (UEA). Peluang ini diprediksi para pakar industri di Global Business Forum ASEAN pada 12 November 2021. 

Dilansir dari halalfocus.net, Kamis (6/1) dalam forum yang diselenggarakan oleh Dubai Chamber dalam kemitraan dengan Expo 2020 Dubai ini mengeksplorasi peluang perdagangan dan investasi antara kedua kawasan. Bagaimana potensi ke depannnya dan upaya Indonesia merebut pangsa pasar industri halal?

Optimisme industri halal bangkit seiring pemulihan ekonomi

Diskusi bertajuk ‘The Islamic Consumer: A Post-Pandemic Comeback?’  para pakar memberikan pandangan seputar proyeksi pulihnya industri halal. Hadir dalam diskusi, yakni Dato Dr Mohmed Razip Hasan, Director-General, Islamic Tourism Centre, Malaysia;  Saleh Lootah, Direktur Pelaksana, Al Islami Foods, UEA;  dan Riyanto Sofyan, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Halal Indonesia.

Meski pasar mengalami kemerosotan akibat dampak pandemi, ketiga pakar tersebut menyatakan optimisme mereka terhadap sektor halal, yang secara global diperkirakan bernilai lebih dari US$4 triliun. Pertumbuhan industri diperkirakan meningkat berkat strategi dan kebijakan baru yang diprediksi menjadi pendorong utama.

Lootah, menyatakan keyakinannya bahwa belanja konsumen perlahan kembali di Dubai, dan mencatat bahwa industri halal akan mencapai tingkat pra-Covid pada akhir 2022.

Senada dengan itu, Hasan menyampaikan bahwa dengan terbukanya perbatasan dan pemulihan ekonomi, industri perjalanan halal mengambil momentum. Dia menjelaskan, bahwa sementara pelancong, muslim tumbuh, dan tetap berpengaruh, pemerintah dan bisnis perlu membangun strategi dan tujuan yang dapat memenuhi tuntutan ini dan untuk memperluas sektor ini agar menarik bagi konsumen nonmuslim.

Strategi mengembangkan pasar konsumen produk halal

Hasan juga mencatat, bahwa ada lima strategi utama yang direncanakan Malaysia untuk dijalankan untuk mendorong permintaan ini. Lebih lanjut dia memerinci poin penting, yakni memposisikan konsumen Islam sebagai orang yang cerdas, niche dan menguntungkan;  meningkatkan leadership dalam bisnis perjalanan Muslim dan manajemen destinasi.

Selain itu, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penyedia layanan terhadap kebutuhan dan persyaratan perjalanan muslim; meningkatkan investasi dalam pariwisata syariah dan infrastruktur perhotelan dan konten bisnis, serta meningkatkan kerja sama antarpemangku kepentingan.

Menanggapi persoalan terkait ketahanan sektor halal, Riyanto Sofyan mengatakan bahwa meskipun pariwisata halal—bersama dengan sektor pariwisata pada umumnya—adalah salah satu yang paling terpukul selama pandemi, itu terbukti menjadi salah satu yang tercepat untuk pulih, menunjuk pada asosiasinya.  mencatat pertumbuhan yang signifikan setelah pandemi.

“Pada kuartal III tahun ini, kami mencapai pertumbuhan 3,5 persen year-on-year, sehingga kami cukup optimistis. Ini adalah waktu dan kesempatan bagi pasar halal untuk menjadi mainstream dengan menggunakan pendekatan inklusif,” ujarnya.

Dia menambahkan, pemerintah Indonesia juga mendukung pengembangan sektor halal dan telah membentuk entitas baru untuk mengembangkan ekonomi Islam dan industri halal. 

“Ini akan membantu ambisi kami untuk menjadi pemimpin dalam industri halal dengan memanfaatkan dan menggunakan pasar konsumen Islam kami yang besar. Tujuan utama dalam industri halal mencakup sertifikasi kepada produk halal dan pelayanan halal, sehingga dapat menjadi arus utama untuk menarik pangsa pasar, baik muslim maupun nonmuslim,” ujarnya.

Menjadikan Indonesia pusat produsen halal dunia

Besarnya pangsa pasar produk halal membuka peluang Indonesia menjadi pusat industri halal dunia. Menurut laporan Bank Indonesia, ekspor neto 2020 tercatat tumbuh sekitar 38 persen dibandingkan 2019, dengan total nilai ekspor bahan makanan halal mencapai sekitar 500 triliun rupiah. Untuk itu, pemerintah terus bertekad menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.

“Sekali lagi saya ingin menekankan besarnya tekad dan komitmen pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produsen halal dunia,” kata Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin, Jumat (17/12/2021).

Komitmen pemerintah, kata dia, diwujudkan melalui berbagai program. “Pertama, peningkatan kapasitas produksi produk halal, termasuk melalui pembentukan kawasan industri halal (KIH), pembentukan zona-zona halal, dan percepatan proses sertifikasi halal,” ucapnya.

Kedua, sambung Wapres, diupayakan dengan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) industri halal. Langkah ini digerakkan dengan memanfaatkan teknologi digital, meningkatkan kemampuan daya saing, memperluas akses pasar, memberikan kemudahan akses permodalan, dan lain-lain.

“Ketiga, peningkatan kualitas SDM [sumber daya manusia] berbasis ekonomi dan keuangan syariah serta peningkatan literasi masyarakat terhadap produk halal,” tutur Ma'ruf.

Related Articles