Jakarta, FORTUNE – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, menyampaikan bahwa gaya hidup bernilai Islam dapat menjadi faktor pendorong penting bagi pasar syariah di Indonesia. Peluang ini dapat berkembang dalam berbagai sektor industri, mulai fesyen, makanan, minuman, industri jasa, pariwisata, pendidikan, hingga kesehatan.
“Adanya peningkatan selera masyarakat untuk melakukan gaya hidup Islam ini tentu menimbulkan suatu kesempatan yang luar biasa, yaitu tumbuhnya industri yang bisa memenuhi referensi atau permintaan dari masyarakat ini,” kata Sri Mulyani di acara Penandatanganan MoA Program Strategic Sharia Banking Management (SSBM) secara daring, Rabu (22/9).
Gaya hidup Islami merupakan peluang besar dalam pengembangan ekosistem industri syariah. Hal ini semakin diperkuat dengan Laporan State of the Global Islamic Economy 2020-2021, yang memosisikan Indonesia dalam 10 posisi teratas dalam hal kuliner halal, keuangan syariah, wisata ramah untuk muslim, fesyen, kosmetik, media dan hiburan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa pada 2020 total aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp1.801,40 triliun atau meningkat 22,71 persen (year on year/yoy). Aset perbankan syariah dinilai bertumbuh positif hingga 13,11 persen (yoy). Sementara, pada semester pertama 2021, aset perbankan syariah menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, yakni 15,8 persen (yoy).