Jakarta, FORTUNE - Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra, menilai keamanan siber di Indonesia masih cenderung rendah meski jumlah serangan siber diprediksi meningkat pada tahun ini di tengah konflik geopolitik Timur Tengah.
“Terlepas dari perangnya, sebenarnya di sini juga belum siap-siap banget. Misalnya ada serangan ke perusahaan, mereka juga belum siap,” ujarnya usai konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/4).
Pendapat tersebut bersumber dari masih rendahnya pemahaman atas pentingnya keamanan siber. Menurutnya, pengeluaran yang dikeluarkan perusahaan untuk menjaga keamanan suatu sistem masih cenderung rendah atau belum menjadi kebutuhan primer.
“Sekarang tahu sendiri budget IT-nya nomor berapa,” katanya.
Untuk mengantisipasi adanya serangan siber yang meningkat di tengah tensi geopolitik, Defi mengatakan sumber daya pada bidang IT di Indonesia perlu ditingkatkan. Pasalnya, selain pemahaman yang rendah, sumber daya pada bidang IT juga diklaim cukup rendah.
“Kita jarang punya talent speciality bidang cyber security. Makanya salah satu misi kita adalah apabila perang masih lama, kita masih punya waktu untuk paling nggak membangun talent,” ujar Defi.
Di samping itu, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, Adrian Hia, meramalkan jumlah serangan siber pada tahun ini akan menjadi yang tertinggi dalam sejarah. Bukan hanya karena ketegangan geopolitik, melainkan juga kemudahan dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
"Jadi, alih-alih satu orang membuat satu virus, sekarang orang akan meminta AI untuk membantu membuat 10.000 virus. Jadi, saya memprediksi bahwa serangan siber akan meningkat," kata Adrian.
Menurut data Kaspersky, sebanyak 14.909.665 serangan berbasis web dan 39.718.903 ancaman pada perangkat terdeteksi dan diblokir oleh Kaspersky pada tahun lalu. Selain itu, Kaspersky menggamati bahwa 20 persen perusahaan di Indonesia mengalami serangan rantai pasokan tahun lalu.
Sementara itu, sebanyak 0,25 persen pengguna bisnis Kaspersky terserang ransomware pada paruh pertama 2025.
