Jakarta, FORTUNE – Dunia investasi termasuk aset kripto takkan terlepas dari risiko manipulasi, salah satunya pump and dump atau lebih populer dikenal dengan istilah pompom. Praktik tersebut merupakan salah satu bentuk skema manipulasi pasar. Investor perlu mengetahui risiko ini agar terhindar dari kerugian.
Secara istilah, pump memiliki arti memompa, dan dump berarti membuang. Dalam praktiknya, pompom merujuk kepada siklus lonjakan harga aset kripto, tapi tidak lama kemudian nilainya turun tajam, sebagaimana dilansir dari laman Pintu.
Mengapa kondisi demikian dapat terjadi? Ketika banyak trader melakukan aksi beli, maka permintaan terhadap aset kripto tertentu akan meningkat, dan harganya naik. Namun, setelah harga itu naik, para trader menjual aset tersebut sehingga harganya langsung turun.
Nah, para trader yang melakukan aksi pump and dump ini merupakan kelompok yang berkepentingan. Mereka bertujuan untuk melakukan manipulasi pasar dengan “memompa” ataupun mendorong permintaan terhadap suatu aset sehingga menaikan harganya. Namun, ketika harga itu sudah sesuai dengan target, maka mereka akan menjual aset tersebut.
Masalahnya, siklus pompom ini hanya berlangsung dalam sebentar bahkan bisa dalam hitungan detik, demikian situs web Zipmex. Tentunya ini akan merugikan trader yang tidak mengetahui bahwa nilai aset kriptonya tengah dimanipulasi.