Jakarta, FORTUNE – Raksasa teknologi asal Taiwan, Asus, dikabarkan bakal menghentikan ekspansi lini bisnis smartphone pada tahun ini. Perusahaan tersebut memutuskan untuk menggeser fokus utama investasi ke pengembangan perangkat keras berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan robotika.
Keputusan itu disampaikan langsung oleh Chairman Asus, Jonney Shih, dalam pertemuan karyawan akhir tahun. Dilansir Gizmochina, Shih menegaskan Asus tidak akan menambah model ponsel baru ataupun membuka kategori produk tambahan dalam portofolio smartphone mereka ke depannya.
Langkah ini diambil di tengah persaingan industri ponsel yang kian ketat dan berorientasi pada margin keuntungan yang tipis. Asus menilai bisnis ponsel tidak lagi ideal diposisikan sebagai mesin pertumbuhan utama, baik dari sisi volume penjualan maupun ekspansi pasar baru.
Meski tidak lagi agresif merilis produk baru, Asus memastikan tidak akan menelantarkan konsumen. Perusahaan berkomitmen tetap mempertahankan layanan purnajual dan dukungan teknis bagi pengguna yang saat ini masih menggunakan perangkat smartphone Asus.
Ke depan, orientasi Asus akan beralih total ke pengembangan sistem yang berpusat pada AI. Ini mencakup inovasi pada mesin cerdas, robotika, serta perangkat komputasi edge yang mampu beroperasi mandiri dengan intervensi manusia minimal. Manajemen meyakini produk "AI fisik" inilah yang akan menopang pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Pergeseran strategi ini sejalan dengan potret kinerja keuangan perusahaan.
Berdasarkan laman resminya, brand Asus membukukan pendapatan 189,90 miliar dolar Taiwan pada kuartal III-2025, meningkat 21 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Dari total pendapatan tersebut, kontribusi terbesar masih didominasi oleh lini sistem (53 persen) dan open platform (45 persen).
Sementara itu, segmen produk berbasis AI dan Internet of Things (AIoT)—yang kini menjadi fokus baru—baru berkontribusi 2 persen.
Meski pendapatan tumbuh, profitabilitas perusahaan mengalami tekanan. Laba bersih Asus mencapai 10,55 miliar dolar Taiwan, turun 16 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
