Jakarta, FORTUNE – CEO Indodax, Oscar Darmawan, menanggapi kasus kejatuhan bursa aset kripto FTX yang telah memberikan sentimen negatif terhadap industri yang masih sangat muda ini. Menurutnya, perlu ada audit total terhadap platform aset kripto di Indonesia demi transparasi dan perlindungan nasabah.
Dalam keterangan pers, Selasa (15/11), Oscar menyatakan isu likuiditas yang dialami FTX menjadi perhatian bagi para pelaku industri aset kripto. Transparansi perlu dipraktikkan pada platform kripto agar mendapat kepercayaan komunitas investor, katanya.
"Indodax sudah berdiri hampir sembilan tahun lamanya dan kami selalu berusaha menjaga kepercayaan para member kami. Likuiditas kami lebih dari 100 persen baik dari kripto maupun rupiah. Sebagai pelaku industri, saya juga berharap tidak ada exchange di Indonesia yang jatuh karena penyalahgunaan aset nasabah ini" kata Oscar.
Menurut Reuters, Senin (14/11), FTX mengajukan kebangkrutan pada akhir pekan lalu usai mengalami masalah penarikan dana dari nasabah yang mencapai US$6 miliar. Tindakan nasabah ini ditengarai dipicu oleh batalnya transaksi akuisisi FTX oleh Binance.
Dalam pengajuan kebangkrutannya, FTX Trading mengeklaim memiliki aset US$10 miliar hingga US$50 miliar, kewajiban US$10 miliar sampai US$50 miliar, dan lebih dari 100.000 kreditur.
Pada sisi lain, berdasarkan dokumen yang dibagikan Bankman-Fried kepada investor, FTX memiliki kewajiban US$13,86 miliar dan aset US$14,6 miliar. Namun, hanya $900 juta dari aset tersebut yang likuid, yang ditengarai menjadi penyebab krisis keuangan perusahaan sehingga berakhir pada kerugian besar.
Menurut Oscar, kejatuhan salah satu bursa aset kripto terbesar di dunia itu ikut mempengaruhi ekosistem kripto secara global.