TECH

Gen Z Takut Kehilangan Pekerjaan karena AI, Benarkah?

AI justru berpeluang menciptakan lapangan kerja baru.

Gen Z Takut Kehilangan Pekerjaan karena AI, Benarkah?ilustrasi developer AI (unsplash.com/Hitesh Choudhary)

by Desy Yuliastuti

12 February 2024

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Gen Z dinilai sebagai generasi yang paling paham digital dan memasuki dunia kerja dengan berbagai keterampilan digital. Meskipun demikian, karyawan Gen Z mungkin lebih takut akan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang mencuri pekerjaan mereka dibandingkan generasi baby boomer yang lebih seniordan mungkin kurang maju secara teknologi. Demikian menurut survei terbaru AI Indeed, melansir Fortune.com pada Senin (12/2).

Perusahaan rekrutmen global ini melakukan survei terhadap lebih dari 3.500 pemimpin dan 3.743 pencari kerja di Inggris, Amerika Serikat, Kanada, India, Perancis, Jepang, dan Jerman. Survei menemukan bahwa meskipun seperempat pencari kerja secara keseluruhan merasa takut terhadap dampak AI di tempat kerja, angka ini melonjak hingga lebih dari 30 persen untuk responden berusia antara 18 dan 24 tahun.

Sebagai perbandingan, pada mereka yang berusia di atas 45 tahun, persentase mereka yang merasa takut turun menjadi di bawah 15 persen. “Hipotesis saya adalah pekerja yang lebih tua pernah melihat cerita ini sebelumnya. Mereka hidup melalui kebangkitan PC, mereka hidup melalui kebangkitan internet,” kata Hannah Calhoon, kepala inovasi AI Indeed kepada Fortune. 

Apa yang membuat Gen Z merasa terancam? Calhoon mengatakan, andai menempatkan diri pada posisi Gen Z dan memasuki pasar kerja, tentunya menaruh harapan besar untuk karier masa depan. Namun, apa jadinya jika misalnya mendengar dari bank investasi seperti Goldman Sachs bahwa AI dapat menggantikan setara dengan 300 juta orang yang bekerja penuh waktu untuk pekerjaan secara global di tahun-tahun mendatang. Tak heran jika generasi pekerja terbaru—yang tertua berusia 27 tahun—merasa terancam.” 

Mengatasi ketakutan dengan pemahaman

Penelitian terpisah dari situs penulis esai mahasiswa EduBirdie menemukan bahwa 3 dari 5 Gen Z khawatir mereka akan kehilangan pekerjaan karena AI dalam dekade ini—dan 10 persen berpendapat hal itu bahkan bisa terjadi pada tahun ini.

Namun, para pekerja berpengalaman yang telah melewati gangguan di tempat kerja sebelumnya, tahu bahwa pada akhirnya, segala sesuatunya akan baik-baik saja—entah pekerjaan mereka termasuk dalam daftar pekerjaan yang paling berisiko ditangkap oleh AI atau tidak.

“Mereka memahami bahwa dengan transformasi teknologi besar-besaran ini, perubahan akan terjadi, namun meskipun perubahan tersebut mungkin menyebabkan perubahan pekerjaan atau deskripsi pekerjaan yang berbeda, mereka dapat beradaptasi,” kata Calhoon. 

Ia juga mengatakan para pekerja muda belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. Jadi, hal ini merupakan hal baru dan tidak pasti, sehingga agak menakutkan. Namun, daripada takut pada ChatGPT dan sejenisnya, para pekerja muda baru akan lebih baik memahami model bahasa besar atau Large Language Model (LLM). Hal ini karena jika sejarah menunjukkan sesuatu, suatu hari orang tidak akan bisa membayangkan pekerjaan mereka tanpanya.

Sama seperti kegilaan AI yang kita saksikan saat ini, pekerja pada usia tertentu mungkin ingat ketakutan yang nyata ketika komputer pertama kali muncul pada tahun 1980-an. Saat ini, kekhawatiran tersebut tampaknya tidak masuk akal—dan ini merupakan pengingat bahwa ketakutan terburuk kita terhadap teknologi jarang terwujud.

Sejak ledakan PC, internet, Cloud, media sosial, dan sebagainya, sebagian besar profesi telah mengalami perubahan citra digital. Copywriter sekarang menggunakan laptop, bukan mesin tik; desainer mengandalkan Adobe Photoshop daripada pena dan kertas; dan sejumlah besar peran TI diciptakan seiring berjalannya waktu. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada AI.

Meskipun ada prediksi bahwa “pekerjaan kerah putih yang berulang-ulang” akan menjadi hal pertama yang akan hilang berkat AI, dan menghentikan sementara perekrutan peran apa pun yang dapat digantikan, bahkan CEO IBM Arvind Krishna mengatakan bahwa teknologi ini akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja daripada menghilangkannya.

“Orang-orang salah mengartikan produktivitas dengan perpindahan pekerjaan,” katanya pada konferensi Fortune CEO Initiative . “Pada tahun 1995, tidak ada yang mengira akan ada 5 juta desainer web—dan memang ada.”