Jakarta, FORTUNE - Dominasi mesin pencari sebagai tulang punggung tunggal Alphabet kini mulai bergeser seiring dengan meledaknya performa lini komputasi awan pada kuartal I-2026.
Laporan Fortune menyebutkan pendapatan Google Cloud meroket 63 persen secara tahunan hingga menyentuh US$20 miliar. Capaian tersebut merupakan rekor pertumbuhan tercepat yang pernah dicatatkan perusahaan itu.
Kini, bisnis cloud telah mencapai 18 persen dari total porsi bisnis Alphabet, yang merupakan lonjakan signifikan dibandingkan 13,6 persen pada periode sama tahun lalu. Angka ini menandai berakhirnya era ketika cloud computing hanya dianggap sebagai "proyek sampingan" yang menarik di bawah bayang-bayang iklan.
CEO Alphabet, Sundar Pichai, dalam laporan yang diwartakan CNBC menegaskan bahwa, “Solusi AI korporasi kami telah menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis cloud untuk pertama kalinya.”
Di balik moncernya kinerja tersebut, Fortune menyoroti adanya pergeseran budaya di Mountain View dari kultur sandal jepit para teknisi menuju dominasi para eksekutif berjas di bawah kendali Thomas Kurian. Bagaimana kontras budaya antara teknokrat santai dan tenaga penjual korporat ini bermain di masa depan akan menjadi dinamika menarik bagi para pemegang saham.
Namun, di tengah gegap gempita pertumbuhan, TechCrunch melaporkan adanya kendala kapasitas yang membuat Google Cloud kewalahan memenuhi dahaga pasar akan kecerdasan buatan. Hal ini terbukti dari tumpukan pesanan atau backlog yang nilainya membengkak hingga sekitar US$460 miliar.
Pichai secara terbuka mengakui keterbatasan tersebut dalam paparan di hadapan para analis sebagaimana dikutip oleh TechCrunch.
“Jelas sekali, kapasitas komputasi kami terbatas dalam jangka pendek,” kata Pichai sembari menjanjikan investasi besar-besaran demi mengurai tumpukan pesanan tersebut dalam 24 bulan ke depan.
Sisi positifnya, efisiensi operasional Google Cloud menunjukkan taji dengan margin yang melebar drastis dari 9,4 persen tahun lalu menjadi 32,9 persen pada kuartal ini. Berdasarkan data Fortune, laba operasi divisi ini pun melonjak tiga kali lipat menjadi US$6,6 miliar.
Dalam kancah persaingan global, Google Cloud menjadi pelari tercepat yang mengungguli laju pertumbuhan para rivalnya, Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft Azure. Menurut CNBC, meski AWS masih memimpin pangsa pasar dengan pendapatan US$37,6 miliar, tapi tingkat pertumbuhan Google yang mencapai 63 persen jauh melampaui AWS yang tumbuh 28 persen.
Pihak Amazon sendiri terus memperkuat kuku bisnisnya melalui layanan Bedrock yang mengalami lonjakan konsumsi token secara historis pada awal tahun ini.
“OpenAI menyatakan telah melihat permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk produk baru ini, dan kami pun melihat minat pelanggan yang sangat besar,” ujar CEO Amazon, Andy Jassy, kepada CNBC.
Seluruh raksasa teknologi ini diprediksi akan merogoh kocek hingga US$600 miliar untuk belanja modal demi memenangkan kompetisi pada bidang AI, menurut ulasan CNBC.
