Jakarta, FORTUNE - NFT digadang-gadang menjadi angin segar bagi para musisi untuk memperoleh keuntungan maksimal dari karya-karya musik mereka. Terlebih di era digital, kebutuhan akan proteksi terhadap karya-karya seni digital menjadi semakin krusial.
NFT yang dibangun di atas blockchain diharapkan dapat menjadi jawabannya, sebab teknologi ini memberikan verifikasi soal kepemilikan terhadap sebuah aset digital dengan transparansi sampai ke transaksi awalnya. Meskipun filenya tetap dapat diperbanyak, tapi peneguhan hak akan karya tersebut tercatat di blockchain menjadi sertifikat digital keaslian yang berharga.
NFT musik relatif baru di dunia. Salah satu koleksi pertama adalah "Audioglyphs," yang mengukuhkan dirinya sebagai revolusi bagi penikmat musik, mensintesis aliran audio yang tak terbatas untuk setiap NFT. Kreator dan investor mulai menemukan kebaruan NFT musik, karena mengurangi hambatan akses ke artis dan konsumen.
DJ elektronik dan kolektor NFT 3LAU (BLAU), membuat sejarah dengan menjual album pemecah rekornya Ultraviolet seharga US$11,7 juta. Dia juga menciptakan platform berbagi royalti Royal, yang sejauh ini telah mengumpulkan setidaknya US$71 juta. Baru-baru ini, John Legend juga mengumumkan peluncuran platform NFT musiknya sendiri. Ini menunjukkan bahwa ada lebih banyak artis yang tertarik dengan teknologi tersebut.
Lebih jauh menyoal NFT di industri musik, Mike Darlington CEO Monstercat—perusahaan label rekaman yang berbasis di Kanada—berbagi pandangan tentang masa depan NFT musik, dampaknya, dan bagaimana audio NFT Monstercat lewat platform Relics terjual habis.