Jakarta, FORTUNE – Riset CIsco bertajuk AI Readiness Index 2025 mengungkapkan temuan, 40 persen dari organisasi di Indonesia berisiko kehilangan nilai akibat munculnya ancaman “AI Infrastructure Debt” (Utang Infrastruktur AI).
Hal ini diungkap dalam ajang Cisco Connect Indonesia 2026 yang dihadiri pemimpin industri, pakar teknologi, serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) Nezar Patria guna membahas masa depan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Riset terbaru dari AI Readiness Index menunjukkan tingkat kesiapan organisasi yang berbeda-beda. Studi ini didasarkan pada survei double-blind terhadap 8.000 pemimpin senior IT dan bisnis yang bertanggung jawab atas strategi AI di organisasi dengan lebih dari 500 karyawan, mencakup 30 pasar dan 26 industri
Adapun, hasil studi ini menunjukkan hanya 13 persen perusahaan di tingkat global, yang dikenal sebagai AI Pacesetters, berada di garis depan. Kelompok ini mengambil keputusan infrastruktur fundamental yang menciptakan keunggulan berkelanjutan, dan 97 persen telah mengimplementasikan AI pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan untuk membuka berbagai use case serta mencapai return on investment (ROI).
Sementara itu, banyak organisasi menghadapi risiko-risiko akibat “AI Infrastructure Debt”, yang bisa berpengaruh pada kemampuan mereka untuk merealisasikan value.
“Pilihan infrastruktur yang diambil perusahaan hari ini akan menentukan apa yang bisa mereka capai di masa depan. Para pemimpin AI merancang arsitektur secara berbeda—dan para Pacesetters membuktikannya,” ujar, Managing Director Cisco Indonesia, Cin Cin Go dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1). “Mereka membangun fondasi yang berorientasi pada jaringan, memprioritaskan infrastruktur daya, melakukan optimalisasi secara berkelanjutan, serta mengintegrasikan keamanan sejak awal.”
Pacesetters melaju lebih cepat bukan semata karena berinvestasi lebih besar, tetapi karena melakukan investasi infrastruktur lebih awal, sehingga terhindar dari AI Infrastructure Debt, utang infrastruktur AI yang berpotensi menghambat inovasi serta meningkatkan risiko operasional dan keamanan bagi organisasi.
Indeks ini memperingatkan bahwa tanda-tanda awal sudah terlihat di Indonesia—banyak organisasi menerapkan agen AI lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk mengamankannya. Hanya 29 persen yang menilai jaringannya optimal, sementara 43 persen masih kekurangan infrastruktur daya, padahal hampir separuh dari mereka memperkirakan pertumbuhan beban kerja AI lebih dari 50 persen.
