Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Akamai 2.png
Akamai prediksi tren AI dan keamanan siber di Asia Pasifik 2026.

Intinya sih...

  • AI akan mengubah keamanan siber dan strategi cloud di Asia Pasifik pada 2026

  • API diprediksi menjadi vektor serangan utama, dengan lebih dari 80 persen organisasi di kawasan APAC mengalami setidaknya satu insiden keamanan API dalam setahun terakhir

  • Kedaulatan digital akan menjadi isu strategis sekaligus ekonomi, dengan arsitektur AI terdistribusi yang diperkirakan kian dominan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Akamai Technologies, Inc. memproyeksikan kecerdasan buatan (AI) akan menjadi faktor utama yang mengubah lanskap keamanan siber dan strategi cloud di Asia Pasifik (APAC) pada 2026. Ancaman siber berbasis AI, kebutuhan komputasi AI terdistribusi, serta tuntutan kedaulatan data diperkirakan mendorong banyak perusahaan menata ulang cara membangun dan melindungi infrastruktur digitalnya.

Di sisi keamanan, Akamai menilai AI akan mempercepat dan mengotomatisasi serangan siber, memangkas waktu eksekusi dari hitungan minggu menjadi jam. API diprediksi menjadi vektor serangan utama, seiring meningkatnya ketergantungan sektor keuangan, layanan publik, bahkan ritel pada ekosistem digital. Lebih dari 80 persen organisasi di kawasan APAC mengalami setidaknya satu insiden keamanan API dalam setahun terakhir, dan hampir dua pertiga di antaranya tidak memiliki mengetahui API mana yang mengirimkan data sensitif.

Ransomware juga diperkirakan semakin terkomoditisasi melalui model Ransomware-as-a-Service, sehingga menurunkan hambatan masuk bagi pelaku kejahatan siber dan meningkatkan risiko bagi industri padat data.

“AI mengubah ekonomi serangan siber. Skala serangan kini didorong oleh otomatisasi, bukan tenaga manusia,” ujar Reuben Koh, Director of Technology and Security Strategy Akamai dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (5/2).

Menurutnya, organisasi perlu beralih ke keamanan real-time berbasis otomatisasi, memperkuat tata kelola API, dan meningkatkan ketahanan rantai pasok digital untuk menjaga kepercayaan pelanggan dan keberlangsungan bisnis.

Cloud dan Kedaulatan Digital

Sementara itu, di ranah cloud, Akamai memprediksi kedaulatan digital akan menjadi isu strategis sekaligus ekonomi. Organisasi di APAC semakin menuntut portabilitas cloud guna mengurangi risiko geopolitik dan ketergantungan pada satu penyedia.

Arsitektur AI terdistribusi juga diperkirakan kian dominan, dengan proses inferensi yang dipindahkan lebih dekat ke pengguna dan sistem operasional, demi efisiensi dan performa.

Keamanan AI pun meluas melampaui endpoint. Perusahaan dituntut mengamankan seluruh rantai pasok data AI, mulai dari data pelatihan hingga output model, mendorong adopsi AI firewall dan tata kelola AI yang lebih ketat. Dari sisi biaya, praktik FinOps diprediksi bergeser ke tahap desain awal, dengan visibilitas biaya real-time menjadi bagian dari setiap keputusan arsitektur AI.

Jay Jenkins, Chief Technology Officer (CTO) Layanan Komputasi Cloud di Akamai, mengatakan strategi cloud di Asia sedang bergeser menuju otonomi. Para pemimpin ingin memiliki kemampuan untuk memindahkan beban kerja dengan mudah, menerapkan kontrol data yang kuat, dan menjalankan AI di tempat yang paling sesuai, baik di inti sistem maupun di tepi jaringan.

Dengan IDC memprediksi bahwa 80 persen CIO di APAC akan mengandalkan layanan edge untuk kinerja AI dan kepatuhan hingga 2027, jelas bahwa kawasan ini sudah mempersiapkan diri untuk masa depan yang terdistribusi.

“Pada 2026, perancangan untuk portabilitas dan AI terdistribusi akan menjadi kunci dalam membangun layanan digital yang tangguh dan siap untuk masa depan,” katanya.

Editorial Team

EditorEkarina .