Jakarta, FORTUNE - Dokter yang terbiasa menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam prosedur medis terbukti 20 persen lebih rendah kemampuannya mendeteksi kelainan ketika kembali bekerja tanpa bantuan teknologi tersebut. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya ketergantungan berlebihan pada AI.
Melansir Fortune.com, penelitian yang diterbitkan bulan ini di jurnal Lancet Gastroenterology & Hepatology mengungkap bahwa endoskopis yang diperkenalkan pada alat bantu AI saat melakukan kolonoskopi mengalami penurunan tingkat deteksi kelainan setelah alat tersebut tidak lagi digunakan.
Dr. Marcin Romańczyk, peneliti utama studi ini, mengaku terkejut dengan hasil tersebut dan menduga penurunan itu terjadi akibat terlalu bergantung pada AI. Di sektor-sektor kritis seperti penerbangan, sudah ada bukti sebelumnya bahwa profesional kerap terlalu mengandalkan otomatisasi hingga mengorbankan aspek keselamatan.
AI memang dianggap sebagai cara menjanjikan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi jika terlalu diandalkan, teknologi ini bisa melemahkan keterampilan inti manusia. Riset terbaru bahkan menunjukkan bahwa AI dapat membuat sebagian dokter menjadi lebih buruk dalam mendeteksi kelainan selama pemeriksaan rutin, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait ketergantungan berlebih pada teknologi.
Dalam studi terhadap 1.443 pasien kolonoskopi, tingkat deteksi polip oleh endoskopis yang menggunakan AI tercatat 28,4 persen. Namun ketika akses terhadap alat tersebut dihentikan, angka deteksi turun menjadi 22,4 persen—penurunan 20 persen.
Bagi Romańczyk, seorang gastroenterolog di H-T. Medical Center, Tychy, Polandia, hasil ini mengejutkan. Menurutnya, temuan tersebut tidak hanya menunjukkan adanya potensi “kemalasan” akibat ketergantungan pada AI, tetapi juga mengubah cara dokter berhubungan dengan tradisi pelatihan kedokteran yang sebelumnya berbasis analog.
“Kami belajar kedokteran dari buku dan mentor. Kami mengamati mereka, mereka memberi tahu kami apa yang harus dilakukan,” kata Romańczyk. “Dan sekarang ada objek buatan yang memberi saran apa yang harus dilakukan, ke mana harus melihat, dan kami sebenarnya tidak tahu bagaimana bersikap dalam kondisi itu.”
Sistem AI dalam penelitian ini membantu dokter mengidentifikasi polip dengan menandai area abnormal menggunakan kotak hijau. Romańczyk menyebut fenomena ini sebagai “efek Google Maps”: dokter menjadi terbiasa mencari kotak hijau, sehingga ketika kotak itu tidak ada, mereka kehilangan petunjuk. Ia membandingkan hal ini dengan pergeseran dari peta kertas ke GPS—orang kini bergantung pada aplikasi navigasi untuk menunjukkan rute tercepat, padahal dulu harus mencari sendiri.