Jakarta, FORTUNE - Perusahaan teknologi dan keamanan siber, PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) memutuskan tidak membagikan dividen dan menahan seluruh laba bersih tahun buku 2025. Langkah ini memperkuat ekspansi bisnis dan pengembangan kapabilitas keamanan siber di tengah percepatan transformasi digital nasional.
Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar Kamis (21/5), termasuk pengesahan laporan keuangan, penggunaan laba bersih, hingga realisasi penggunaan dana IPO dan Waran Seri I.
Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp68,35 miliar pada 2025. Dari jumlah tersebut, pemegang saham menyetujui pembentukan cadangan wajib sebesar Rp100 juta, sementara sisanya dibukukan sebagai laba ditahan guna mendukung pengembangan usaha dan ekspansi jangka panjang.
Menurut perusahaan, langkah tidak membagikan dividen mencerminkan strategi perusahaan menjaga fleksibilitas finansial sekaligus memperkuat fondasi bisnis di tengah meningkatnya kebutuhan keamanan digital di berbagai sektor.
CYBR juga telah merealisasikan seluruh dana IPO sebesar Rp92,18 miliar sesuai rencana penggunaan dana. Sementara dana hasil konversi Waran Seri I yang telah digunakan mencapai Rp90,75 miliar, dengan sisa Rp14,83 miliar yang akan diarahkan untuk mendukung pengembangan bisnis pada fase pertumbuhan berikutnya.
Di tengah meningkatnya ancaman siber dan adopsi AI di Indonesia, perseroan melihat peluang besar pada sektor pemerintahan, jasa keuangan, infrastruktur kritikal, hingga enterprise. Untuk menangkap peluang tersebut, perusahaan memperkuat fokus pada layanan cyber resilience, managed security services, serta pengembangan solusi keamanan berbasis AI dan teknologi adaptif.
President Director ITSEC Asia, Patrick Rudolf Dannacher, mengatakan penguatan organisasi menjadi bagian penting dalam strategi pertumbuhan perseroan.
Menurutnya, industri keamanan siber kini memasuki fase yang semakin strategis bagi keberlanjutan bisnis dan ketahanan nasional, sehingga perusahaan membutuhkan struktur organisasi dan kapabilitas yang lebih kuat untuk menjawab kebutuhan pasar yang berkembang cepat.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemegang saham menyetujui pengangkatan Yulius C. Rusli dan Viko Setiyawan sebagai direktur baru perseroan guna memperkuat eksekusi bisnis dan pengembangan strategis perusahaan.
Sementara itu, Bambang Susilo resmi mengundurkan diri dari jabatan direktur, namun tetap akan berkontribusi melalui unit bisnis Governance, Risk and Compliance (GRC).
Manajemen menilai kebutuhan terhadap tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan akan terus meningkat seiring semakin kompleksnya ancaman keamanan digital.
Yulius C. Rusli mengatakan ITSEC Asia memiliki peluang besar untuk memperkuat kapabilitas perusahaan melalui inovasi dan kolaborasi, sementara Viko Setiyawan menambahkan fokus perusahaan ke depan adalah menjaga kelincahan bisnis dalam merespons perubahan ancaman digital yang sangat dinamis.
Dengan penguatan tata kelola, optimalisasi modal, serta fokus pada pengembangan solusi keamanan digital, ITSEC Asia optimistis mampu mempercepat pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat posisi sebagai mitra strategis keamanan siber di Indonesia.
