Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Tak Bagi Dividen, CYBR Fokus Percepat Ekspansi dan Perkuat R&D
Direksi dan komisaris PT ITSEC Asia Tbk (CYBR).
  • ITSEC Asia Tbk (CYBR) memutuskan menahan seluruh laba bersih 2025 sebesar Rp68,35 miliar untuk memperkuat ekspansi bisnis dan pengembangan kapabilitas keamanan siber di tengah transformasi digital nasional.
  • Perusahaan fokus pada layanan cyber resilience, managed security services, serta solusi keamanan berbasis AI dengan dukungan struktur organisasi baru dan penguatan tata kelola guna menghadapi ancaman digital yang meningkat.
  • CYBR mengalokasikan capex untuk akademi pelatihan AI dan keamanan siber, mengembangkan produk lokal seperti IntelliBron Aman, serta memperluas penetrasi pasar internasional ke Singapura, Australia, dan Uni Emirat Arab.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Perusahaan teknologi dan keamanan siber, PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) memutuskan tidak membagikan dividen dan menahan seluruh laba bersih tahun buku 2025. Langkah ini memperkuat ekspansi bisnis dan pengembangan kapabilitas keamanan siber di tengah percepatan transformasi digital nasional.

Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar Kamis (21/5), termasuk pengesahan laporan keuangan, penggunaan laba bersih, hingga realisasi penggunaan dana IPO dan Waran Seri I.

Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp68,35 miliar pada 2025. Dari jumlah tersebut, pemegang saham menyetujui pembentukan cadangan wajib sebesar Rp100 juta, sementara sisanya dibukukan sebagai laba ditahan guna mendukung pengembangan usaha dan ekspansi jangka panjang.

Menurut perusahaan, langkah tidak membagikan dividen mencerminkan strategi perusahaan menjaga fleksibilitas finansial sekaligus memperkuat fondasi bisnis di tengah meningkatnya kebutuhan keamanan digital di berbagai sektor.

CYBR juga telah merealisasikan seluruh dana IPO sebesar Rp92,18 miliar sesuai rencana penggunaan dana. Sementara dana hasil konversi Waran Seri I yang telah digunakan mencapai Rp90,75 miliar, dengan sisa Rp14,83 miliar yang akan diarahkan untuk mendukung pengembangan bisnis pada fase pertumbuhan berikutnya.

Di tengah meningkatnya ancaman siber dan adopsi AI di Indonesia, perseroan melihat peluang besar pada sektor pemerintahan, jasa keuangan, infrastruktur kritikal, hingga enterprise. Untuk menangkap peluang tersebut, perusahaan memperkuat fokus pada layanan cyber resilience, managed security services, serta pengembangan solusi keamanan berbasis AI dan teknologi adaptif.

President Director ITSEC Asia, Patrick Rudolf Dannacher, mengatakan penguatan organisasi menjadi bagian penting dalam strategi pertumbuhan perseroan.

Menurutnya, industri keamanan siber kini memasuki fase yang semakin strategis bagi keberlanjutan bisnis dan ketahanan nasional, sehingga perusahaan membutuhkan struktur organisasi dan kapabilitas yang lebih kuat untuk menjawab kebutuhan pasar yang berkembang cepat.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemegang saham menyetujui pengangkatan Yulius C. Rusli dan Viko Setiyawan sebagai direktur baru perseroan guna memperkuat eksekusi bisnis dan pengembangan strategis perusahaan.

Sementara itu, Bambang Susilo resmi mengundurkan diri dari jabatan direktur, namun tetap akan berkontribusi melalui unit bisnis Governance, Risk and Compliance (GRC).

Manajemen menilai kebutuhan terhadap tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan akan terus meningkat seiring semakin kompleksnya ancaman keamanan digital.

Yulius C. Rusli mengatakan ITSEC Asia memiliki peluang besar untuk memperkuat kapabilitas perusahaan melalui inovasi dan kolaborasi, sementara Viko Setiyawan menambahkan fokus perusahaan ke depan adalah menjaga kelincahan bisnis dalam merespons perubahan ancaman digital yang sangat dinamis.

Dengan penguatan tata kelola, optimalisasi modal, serta fokus pada pengembangan solusi keamanan digital, ITSEC Asia optimistis mampu mempercepat pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat posisi sebagai mitra strategis keamanan siber di Indonesia.

Dampak Pelemahan Kurs Rupiah

Di sisi bisnis, perseroan optimistis prospek industri keamanan siber tetap positif meski kondisi geopolitik global dan pelemahan rupiah masih menjadi tantangan tahun ini. Menurut perusahaan, meningkatnya ancaman keamanan digital justru mendorong kebutuhan investasi cybersecurity di berbagai sektor.

Untuk mendukung ekspansi, Patrick mengatakan alokasi belanja modal (capex) perseroan tahun ini sebagian besar akan dialokasikan untuk pengembangan akademi pelatihan AI dan keamanan siber, termasuk mencetak talenta lokal sekaligus memperkuat edukasi keamanan digital bagi korporasi.

“Siber dan AI berkembang sangat cepat. Karena itu pelatihan dan pengembangan talenta akan menjadi investasi jangka panjang perusahaan,” katanya.

Selain fokus pada enterprise security, perusahaan juga mengembangkan solusi keamanan yang lebih mudah diakses masyarakat luas. Salah satu produk yang dikembangkan IntelliBron Aman yang telah diunduh lebih dari 200 ribu dalam dua bulan.

“Kami percaya Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan produk yang sama baiknya, bahkan lebih baik dibandingkan solusi luar negeri. Sehingga fokus kami adalah membangun produk Indonesia oleh talenta Indonesia untuk ekosistem Indonesia,” ujar Patrick.

Selain memperkuat pasar domestik, perusahaan mulai memperluas penetrasi internasional. Solusi keamanan siber buatan perseroan disebut telah digunakan di sejumlah pasar luar negeri seperti Singapura, Australia, hingga Uni Emirat Arab.

Editorial Team

EditorEkarina .