Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Elon Musk ketika berada dalam acara Memorial for Charlie Kirk di Glendale, Arizona, AS
Elon Musk ketika berada dalam acara Memorial for Charlie Kirk di Glendale, Arizona, AS (flickr.com/gageskidmore)

Intinya sih...

  • Keputusan mendadak ini diambil di tengah pengawasan ketat regulator Eropa.

  • Perusahaan telah beberapa kali berselisih dengan regulator mengenai konten yang ditampilkan kepada pengguna.

  • Menandai perubahan frekuensi pembaruan kode yang kini dipatok setiap empat minggu.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pemilik platform X, Elon Musk, mengumumkan rencana besar membuka kode sumber (open source) algoritma terbaru platformnya bagi publik. Langkah ini mencakup kode yang menentukan rekomendasi unggahan serta iklan yang muncul pada lini masa pengguna.

Berdasarkan laporan Reuters, perilisan kode sumber tersebut dijadwalkan dalam tujuh hari ke depan terhitung sejak Sabtu pekan lalu. Langkah ini sekaligus menandai perubahan frekuensi pembaruan kode yang kini dipatok setiap empat minggu, melonggar dari janji Musk pada September 2025 yang menargetkan pembaruan tiap dua minggu.

“Ini akan diulang setiap 4 minggu, dengan catatan pengembang yang komprehensif, untuk membantu Anda memahami apa yang telah berubah,” demikian Musk dalam unggahan resminya pada platform X, Senin (12/1).

Keputusan mendadak Musk ini diambil di tengah pengawasan ketat regulator Eropa. Bulan lalu, Uni Eropa resmi menjatuhkan denda 120 juta euro kepada X karena dianggap gagal memenuhi kewajiban transparansi dalam Digital Services Act.

Pelanggaran tersebut mencakup ketidakjelasan repositori iklan hingga manipulasi model langganan “centang biru”.

Komisi Eropa juga memperpanjang perintah retensi terhadap X hingga akhir 2026 guna memantau penyebaran konten ilegal. Sebelumnya, X sempat menolak permintaan otoritas Prancis untuk membagikan algoritmanya dengan tuduhan bahwa penyelidikan tersebut bermotivasi politik.

Selain masalah algoritma, X juga menghadapi kecaman global akibat performa chatbot AI mereka, Grok. Fitur pembuat gambar milik Grok dituding menyebarkan konten melecehkan perempuan dan anak-anak secara seksual.

Dampaknya terasa hingga ke pasar domestik. Pemerintah Indonesia, misalnya, resmi memblokir akses terhadap Grok setelah temuan konten seksual yang dihasilkan oleh sistem tersebut. Kemudian, di Inggris, pemerintahnya mengancam akan menghentikan layanan X di wilayah tersebut jika platform itu tidak mematuhi hukum terkait moderasi konten AI.

Di sisi lain, X mulai mengubah strategi monetisasinya. Per Jumat lalu, fitur pembuatan dan penyuntingan gambar pada Grok yang sebelumnya gratis kini hanya dapat diakses melalui langganan berbayar.

Upaya menjadikan algoritma open source ini diharapkan mampu menjawab keluhan pengguna mengenai penurunan jangkauan akun (engagement) sekaligus memperbaiki citra X yang tengah digempur masalah hukum di berbagai belahan dunia.

Editorial Team