Jakarta, FORTUNE - Perubahan signifikan terjadi pada layanan penerbangan jarak jauh rute Dubai–Bali pada awal 2026. Emirates Airlines menggantikan pengoperasian pesawat Airbus A380 dengan Boeing 777 untuk rute Dubai–Denpasar, keputusan yang langsung memicu perdebatan di industri aviasi global. Bali, sebagai salah satu pulau paling banyak dikunjungi di dunia dan simpul penting pariwisata Indonesia, selama ini menjadi titik strategis konektivitas antara Asia Tenggara, Eropa, dan Timur Tengah.
Emirates mulai mengoperasikan Airbus A380 ke Bali pada Juni 2023, menjadikannya satu-satunya maskapai yang menerbangkan pesawat penumpang terbesar di dunia ke Indonesia. Pesawat bertingkat dua itu hampir selalu terbang harian, bahkan sempat beroperasi dua kali sehari pada September–Oktober 2024, menurut data Cirium Diio. Konfigurasi yang digunakan pun tidak lazim: dua kelas tanpa first class dengan total 615 kursi, mencerminkan dominasi penumpang wisata pada rute tersebut.
Namun, mulai Januari 2026, A380 tidak lagi terlihat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Data FlightRadar24 menunjukkan penerbangan A380 terakhir Emirates ke Bali terjadi pada 16 Januari. Selanjutnya, Emirates menggantinya dengan Boeing 777-300ER. Frekuensi penerbangan tetap setiap hari, tetapi kapasitas turun tajam. Jika A380 membawa 615 penumpang, Boeing 777 yang digunakan sebagian besar berkonfigurasi dua kelas tanpa first class dengan 421 kursi, hampir sepertiga lebih sedikit.
Pihak Bandara Ngurah Rai menyampaikan perubahan tersebut murni keputusan maskapai yang berkaitan dengan permintaan pasar. “Dapat disampaikan bahwa saat ini pihak maskapai Emirates melakukan penggantian tipe pesawat Airbus A380 menjadi Boeing 777 untuk melayani penerbangan rute Dubai-Denpasar,” ujar Kepala Komunikasi dan Divisi Hukum Bandara Denpasar, Gede Eka Sandi Asmadi, Senin, (26/1).
Dia menambahkan, mengenai alasan atau waktu penjelasan untuk sementara mengganti tipe pesawat, hal ini sepenuhnya atas kebijakan maskapai dan dapat dikonfirmasi langsung dengan maskapai. Pergantian armada ini tidak mempengaruhi operasional bandara. Semua fasilitas dan pelayanan di Bandara Ngurah Rai tetap optimal dan memenuhi standar, termasuk untuk pesawat besar seperti Airbus A380.
Menurutnya, maskapai secara rutin menyesuaikan jenis pesawat dengan tingkat pemesanan penumpang, terutama setelah periode libur panjang. Bali umumnya mencatat lonjakan wisatawan pada Juni–September serta Desember, sementara awal tahun kerap menjadi musim sepi. Data industri menunjukkan Bandara Ngurah Rai melayani sekitar 24 juta penumpang pada 2024, mendekati level pra-pandemi tetapi tetap dipengaruhi fluktuasi musiman.
Terkait hal ini, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, secara terbuka menyebut adanya prasyarat yang diminta pemerintah untuk kelanjutan operasi Airbus A380 Emirates di Indonesia. Saat dikonfimasi, ia mengatakan pemerintah Indonesia meminta tiga hal. “MRO di Indonesia, kru Indonesia, dan penambahan kota, bukan cuma Bali dan Jakarta,” ujarnya, Rabu (4/2).
Karena permintaan tersebut belum terpenuhi, pemerintah masih menahan izin operasi pesawat superjumbo Emirates.
“Makanya sekarang saya nahan, minta tiga Airbus 380 di Bali belum kita izinkan. Termasuk penggantian pesawat Airbus 380 di Jakarta juga belum kita izinkan,” kata Lukman.
Sebagai perbandingan dengan maskapai Timur Tengah lain, ia menjelaskan Qatar Airways memiliki 90 orang pilot Indonesia. Etihad Airwaiys 40 pilot, belum termasuk kru. Sementara, di Emirates hanya enam pilot dan satu kru Indonesia. Negosiasi sudah dilakukan, tetapi belum membuahkan hasil.
Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa perubahan armada Emirates di Bali tidak sepenuhnya lepas dari dinamika negosiasi bilateral penerbangan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab. Sebelumnya, pada 25 Februari 2025, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menerima Duta Besar UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, membahas peluang kerja sama strategis di sektor penerbangan, termasuk pengembangan perawatan pesawat dan industri aviasi nasional.
