Jakarta, FORTUNE - Fasilitas pendingin krusial dalam rantai pasok sejumlah industri, termasuk makanan-minuman dan farmasi. Peluangnya menjanjikan, tapi masih ada beberapa tantangan yang mesti diatasi.
Dingin menerpa saat salah satu kontainer pembeku di aula JIEXPO Kemayoran dibuka tim Indonesia Cold Chain Expo 2025. Kontainer pendingin yang baru diimpor dari Denmark itu biasanya bersuhu -20 derajat Celsius jika ditutup dan +2 derajat jika dibuka. Setara temperatur musim dingin negara empat musim. Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDPSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwijana, lalu memasukinya tanpa ragu.
Sebelum itu, Erwin lebih dulu menjadi salah satu pembicara dalam sesi dengan media. “Selama ada ikan, sampai kapan pun, maka sistem rantai dingin itu pasti akan ada. Bahkan terus berkembang,” ujarnya di sesi itu (7/5).
Pada 2025, target produksi perikanan Indonesia adalah 24,58 juta ton. Dari sisi nilai ekspor, targetnya mencapai US$6,25 miliar. Jenis komoditas utamanya mencakup kepiting, rajungan, rumput laut, cakalang, tuna, dan udang.
Penyimpanan dan pengiriman komoditas-komoditas itu membutuhkan pendingin agar kualitasnya terjaga. Sama seperti saat Anda membeli daging sapi, ayam, ataupun ikan segar—dibutuhkan kulkas di rumah untuk menyimpannya agar tak cepat busuk.
“Di negara kepulauan seperti Indonesia, rantai dingin akan selalu diperlukan. Karena menghubungkan Indonesia bagian timur, sentra penangkapan, lalu dibawa ke wilayah Indonesia barat dan dijual ke industri atau masyarakat,” kata Erwin.
Ditambah kebutuhan dari sektor lain seperti makanan dan minuman olahan hingga farmasi, membuat rantai pasok dingin menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) pun menyadarinya.
Sejak periode 2011–2012, perusahaan logistik raksasa itu telah menyadari betapa besar potensi pasar dalam sistem rantai dingin. Semua berawal dari kemitraan anak usahanya dengan salah satu jaringan makanan cepat saji besar di Indonesia. Saat itu, Grup Samudera menangani distribusi mereka di wilayah Sumatra dan Batam.
“Lalu mereka menantang dan menawarkan, mau ditambah lagi [jaringan distribusinya] tidak? Tapi, syaratnya, harus ada fasilitas tambahan. Dari situ kami mulai memikirkan mau bermitra di bidang itu,” kata Presiden Direktur PT Samudera JWD Logistics, Andreana Yunizar (13/5).
Samudera JWD Logistics adalah anak usaha Grup Samudera yang membidangi bisnis rantai dingin. “Kami lakukan studi kelayakan bisnis ini dan mencari partner yang punya kemampuan baik.”
Beruntungnya, Grup Samudera memiliki jaringan internasional. Di Thailand, misalnya, mereka sangat akrab dengan SCGJWD Logistics (JWD). Melihat pengalaman JWD di Thailand, Grup Samudera seolah menemukan pasangan tepat yang dapat membantu mereka menyeriusi bisnis rantai dingin.
Pada September 2017, keduanya memperluas kongsi itu dengan mendirikan PT Samudera JWD Logistics. Grup Samudera berpartisipasi melalui PT Samudera Sarana Logistik (SSLog)—dulunya PT Masaji Tatanan Container.
“Mereka seperti teman lama, kami sudah lama kenal,” kata Andreana. “Pemainnya waktu itu tak sebanyak sekarang. Kami melihat momennya saat itu bagus untuk masuk ke industri. Karena kebutuhannya meningkat, mulai berkembang restoran cepat saji, gaya hidup juga berubah.”
Pada 2018, PT Samudera JWD Logistics pun mengakuisisi mayoritas saham PT Adib Cold Logistics (ACL). Sebelum itu, Grup Samudera juga telah bermitra dengan ACL. Dulu, gudang Cikarang Grup Samudera belum memiliki fasilitas penyimpanan rantai dingin. Oleh karena itu, mereka memanfaatkan fasilitas milik ACL untuk memenuhi permintaan khusus sejumlah klien.
Kini, Grup Samudera memiliki dua tipe fasilitas penyimpanan rantai dingin, yakni chill dan frozen. Yang pertama khusus untuk produk farmasi, sedangkan yang kedua untuk makanan-minuman. Dari total 50.000 pallet position mereka sekarang, sekitar 35.000 ditujukan khusus produk farmasi, seperti vaksin.
