Percepatan Kendaraan Listrik di Tengah Berbagai Hambatan dan Keraguan

Permintaan kendaraan listrik dunia juga diikuti skeptisme

Percepatan Kendaraan Listrik di Tengah Berbagai Hambatan dan Keraguan
Ilustrasi mobil listrik. (ShutterStock/Paul Craft)
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE – Penggunaan kendaraan listrik di tengah masyarakat bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. Berawal dari angan, kemudian diwujudkan dengan memulai riset dan pengembangan, kini perubahan iklim memicu percepatan peralihan industri otomotif dari mesin pembakaran menuju penggunaan energi listrik berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Akio Toyoda, Presiden Toyota Motor Corp, menggambarkan situasi ini sebagai "era yang beragam dan belum dipetakan." Sementara, CEO Ford, Jim Farley, menyebutnya sebagai "momen penting."

Dilansir dari The Verge, Selasa (21/12), perubahan visi menuju kendaraan berbasis listrik merupakan janji perusahaan kendaraan sejak bertahun silam yaang kini coba diwujudkan. Namun, seberapa besar potensi perusahaan global dapat mengakomodir permintaan kendaraan listrik yang mulai meningkat?

Sam Abuelsamid, analis kendaraan listrik dari Guidehouse Insights, berpendapat bahwa selama ini banyak perusahaan mobil dunia yang ‘merendahkan’ prospek adopsi massal kendaraan listrik. “Transisi kendaraan listrik (EV) lebih lambat daripada harapan publik, sekaligus lebih cepat dari perkiraan para pembuat mobil, dua atau tiga tahun lalu,” katanya kepada The Verge.

Masalah transisi EV

Menurutnya, ada sejumlah permasalahan yang membayangi proses transisi EV. Masalah tersebut antara lain kebakaran baterai, penarikan kembali, tuduhan penipuan, kekurangan chip global, dan banyak tenggat waktu yang terlewat. Jumlah kendaraan listrik baru yang mulai dijual tahun ini pun masih sangat kecil bila dibandingkan besaran masalah perubahan iklim yang semakin menuntut peralihan ke EV.

The Verge menuliskan bahwa beberapa jenama seperti Ford, Volkswagen, maupun Audi, sudah merilis mobil sport listrik. Namun, berbagai masalah pun muncul dan jadi hambatan besar untuk berkembang.

Merek Rivian–yang sempat mengukir IPO terbesar sepanjang sejarah–mengalami kejatuhan saham dan produksi truk listrik dan SUV pertamanya akan berjalan lambat. Sementara, Chevy Bolt dan Bolt EUV 2021 ditarik kembali setelah terjadi kebakaran baterai.

Kompetensi baru yang dibutuhkan industri EV

Tesla sampai saat ini masih menguasai sekitar dua pertiga pasar EV di AS, dengan Model Y menyalip Model 3 sebagai kendaraan listrik terlaris di dunia. Bahkan, perusahaan penyewaan mobil, Herzt memesan sekitar 100.000 kendaraan. Namun, kontroversi pun tetap ada karena peluncuran perangkat lunak beta Full Self-Driving untuk pelanggan tertentu.

Direktur of Insights di Edmunds, Jessica Caldwell, menyampaikan bahwa apa yang dialami Tesla tidak selalu berlaku bagi pasar untuk kendaraan listrik non-Tesla. "Rasanya pasar EV ini benar-benar seperti 'cepat dan tunggu' karena ada banyak informasi yang disampaikan disertai banyak pembicaraan, namun, tidak banyak terjadi pengiriman," ujarnya.

Permasalahan ini terjadi karena memang untuk mengubah arah industri yang sudah berjalan seabad itu tidak mudah, kata Caldwell. Apa yang mudah untuk startup atau pembuat mobil berukuran sedang seperti Tesla, ternyata jauh lebih sulit untuk perusahaan dengan 100.000 karyawan seperti General Motors (GM).

Di masa lalu, ucap Abuelsamid, merancang dan membangun mesin dan transmisi dianggap sebagai kompetensi inti pembuat mobil. Kini, motor dan baterai EV merupakan kompetensi inti baru, dimana para produsen mobil ingin memiliki seluruh rantai pasokan. “Itulah mengapa kami tiba-tiba melihat para pembuat mobil mengambil kembali kendali atas komponen utama kendaraan generasi berikutnya,” ucapnya.

Permintaan EV meningkat, begitu juga keraguan publik

Permintaan EV di seluruh dunia memang meningkat, namun hal ini juga diikuti dengan sikap skeptisme. Seperti dikutip dari The Verge, ini adalah momen aneh di mana pelanggan menyadari manfaat lingkungan dan finansial dari penggunaan listrik, tetapi tidak yakin atas kemampuan mereka dalam membeli EV atau sarana pendukungnya.

Menurut survei baru oleh Asosiasi Teknologi Konsumen, mayoritas pemilik non-EV percaya bahwa EV tidak dapat diandalkan (53 persen), terlalu mahal (64 persen), dan tidak ada cukup stasiun pengisian daya untuk memiliki EV praktis (85 persen). Di sisi lain, pemilik EV sangat antusias dengan manfaat dan keandalan EV.

“Ada banyak tantangan baru bagi pembuat mobil dalam melakukan semua ini,” kata Abuelsamid. “Mereka tahu cara merakit kendaraan, tetapi sebagian besar lainnya adalah konsumen baru dan meyakinkan bahwa mereka tahu apa yang mereka lakukan tidak akan mudah.”

Magazine

SEE MORE>
Fortune Indonesia 40 Under 40
Edisi Februari 2024
Investor's Guide 2024
Edisi Januari 2024
Change the World 2023
Edisi Desember 2023
Back for More
Edisi November 2023
Businessperson of the Year 2023
Edisi Oktober 2023
Rethinking Wellness
Edisi September 2023
Fortune Indonesia 100
Edisi Agustus 2023
Driving Impactful Change
Edisi Juli 2023

Most Popular

Mengenal Proses Screening Interview dan Tahapannya
Cara Mengaktifkan eSIM di iPhone dan Cara Menggunakannya
Perusahaan AS Akan Bangun PLTN Pertama Indonesia Senilai Rp17 Triliun
SMF Akui Kenaikan BI Rate Belum Berdampak ke Bunga KPR Bersubsidi
Digempur Sentimen Negatif, Laba Barito Pacific Tergerus 61,9 Persen
LPS Bayarkan Klaim Rp237 Miliar ke Nasabah BPR Kolaps dalam 4 Bulan