Jakarta, FORTUNE - Bayer mengumumkan peningkatan fasilitas manufaktur dan penguatan riset di pabrik Bayer Consumer Health Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Rabu (14/1). Total investasi yang digelontorkan mencapai 5 juta euro atau setara Rp99 miliar, mencakup penguatan lini produksi Multiple Micronutrient Supplement (MMS) serta pusat Riset dan Pengembangan (R&D).
Peresmian tersebut dihadiri Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste Dr. Ralf Beste, perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Head of Bayer Supply Center Consumer Health Cimanggis, Priscilla Silvan Prarizta, serta Bayer VP Global Technical Excellence and R&D Operations Jerry Meisel.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai peningkatan kapasitas produksi MMS dan R&D di dalam negeri sebagai langkah strategis untuk mendukung agenda kesehatan nasional, khususnya kesehatan ibu dan anak.
“Penguatan produksi MMS dan R&D di dalam negeri merupakan langkah strategis untuk menjamin ketersediaan produk kesehatan yang bermutu serta mendukung prioritas nasional, termasuk kesehatan ibu dan anak. Terima kasih kepada Bayer yang telah melakukan investasi untuk memproduksi MMS di dalam negeri,” kata Budi.
Dari sisi pengawasan, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan pentingnya kepatuhan industri terhadap regulasi.
“BPOM mendorong industri untuk terus mematuhi ketentuan dan regulasi yang berlaku serta menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik secara konsisten,” ujarnya.
Duta Besar Jerman, Dr. Ralf Beste menyatakan penguatan kapabilitas manufaktur dan riset tersebut menjadi kontribusi sektor swasta Jerman dalam mendukung sistem kesehatan Indonesia.
“Penguatan kapabilitas manufaktur dan Research & Development ini merupakan kontribusi nyata sektor swasta Jerman dalam mendukung penguatan sistem kesehatan, pengembangan kapasitas lokal, serta kerja sama berkelanjutan,” kata Beste.
Peningkatan fasilitas manufaktur mencakup kesiapan produksi MMS yang diformulasikan sesuai standar UNIMMAP, mengandung 15 vitamin dan mineral esensial bagi ibu hamil. Priscilla Silvan Prarizta menjelaskan, sebagian investasi dialokasikan untuk meningkatkan kapasitas produksi.
“Bayer menginvestasikan 1.4 juta euro atau setara 26 miliar Rupiah untuk mengoptimalkan output produksi hingga 20 persen. Kini, kapasitas produksi Pabrik Bayer Consumer Health Cimanggis mencapai 2,4 miliar tablet per tahun untuk kebutuhan domestik maupun global. Khusus untuk MMS, Pabrik Bayer Consumer Health Cimanggis mampu memproduksi hingga 1,2 miliar tablet per tahun dalam kemasan botol dan blister,” katanya, menjelaskan.
Selain manufaktur, Bayer juga memperkuat fungsi R&D di Cimanggis melalui investasi sebesar 3,6 juta euro. Fasilitas ini difokuskan pada peningkatan kualitas produk, optimalisasi formulasi, metode analisis, serta uji stabilitas di berbagai zona iklim. “Penguatan kapabilitas R&D di pabrik Bayer Consumer Health Cimanggis melalui investasi sebesar 3,6 juta euro ditujukan untuk memastikan produk tetap aman, efektif, dan stabil di berbagai kondisi iklim, sekaligus terhubung secara penuh dengan jejaring R&D global Bayer,” ujar Jerry Meisel.
Terkait investasi ini, Menkes Budi menyambut baik tetapi juga menyoroti masih terbatasnya investasi industri farmasi global di Indonesia, meski belanja kesehatan nasional terus meningkat. Ia memperkirakan pengeluaran jasa kesehatan per kapita akan naik dari sekitar US$140 saat ini menjadi US$300 dalam lima tahun ke depan. Dengan tren tersebut, nilai pasar industri kesehatan nasional diproyeksikan mencapai US$86 miliar atau sekitar Rp1.451 triliun pada 2031, seiring kenaikan usia harapan hidup penduduk.
“Kalau saya CEO Bayer, saya akan menargetkan pangsa pasar farmasi nasional 10 persen dan bisa menikmati peluang pendapatan tambahan US$ 8,6 miliar. Kalau kalian tidak melihat peluang ini, maka kalian antara buta atau bodoh,” kata Menkes Budi.
Ia menambahkan, dengan nilai aset konsolidasi Bayer AG sekitar US$44 miliar, pasar kesehatan Indonesia berpotensi menumbuhkan setidaknya dua perusahaan sekelas Bayer hingga 2031. Bahkan, pengeluaran layanan kesehatan per kapita diproyeksikan meningkat hingga US$3.100 pada 2040, dengan nilai pasar industri layanan kesehatan nasional diperkirakan mencapai US$860 miliar per tahun.
