Jakarta, FORTUNE - Di sebuah sudut pabrik keramik di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, suara mesin produksi menderu tanpa henti. Lembaran ubin keluar dari jalur produksi, rapi dan seragam.
Di balik kisah itu berdiri sosok Tandean Rustandy, pendiri dan CEO PT Arwana Citramulia Tbk. Pria kelahiran Pontianak ini bukan pewaris kerajaan bisnis besar. Ia tumbuh dari keluarga sederhana, di tengah keterbatasan yang nyata. Namun, justru dari situ lahir keyakinan yang membentuk jalan hidupnya—membangun perusahaan yang berdiri di atas integritas, profesionalisme, dan dampak sosial.
Perjalanan Tandean menuju dunia industri bermula jauh dari pabrik keramik. Setelah menyelesaikan pendidikan di University of Colorado Boulder di Amerika Serikat, ia pulang ke Indonesia dan bekerja sebagai profesional. Namun, pengalaman itu justru meninggalkan luka.
Ia menyaksikan langsung bagaimana sebagian perusahaan dijalankan semata-mata demi kepentingan pribadi pemiliknya. Kerugian bisnis tak menjadi masalah selama gaya hidup tetap terjaga.
“Yang penting dia punya teman. Dia masih tinggal di Menteng. Dia masih punya Mercy. Perusahaan enggak ada, enggak apa-apa. Nanti kan bisa pinjam duit lagi, bangun lagi,” ujarnya kepada Fortune Indonesia.
Baginya, pola pikir seperti itu tidak bisa diterima. Kekecewaan itu justru menjadi bahan bakar untuk membangun sesuatu yang berbeda—sebuah perusahaan yang tidak bergantung pada kekuasaan, tidak bersandar pada koneksi politik, dan benar-benar melayani kebutuhan masyarakat.
“Saya ingin menciptakan perusahaan yang tidak bersentuhan dengan kekuasaan dan politik,” ujarnya.
Pada awal 1990-an, Tandean melihat satu kenyataan besar di Indonesia: sebagian besar masyarakat masih hidup dalam keterbatasan ekonomi. Lebih dari 70 persen penduduk Indonesia kala itu berada di lapisan berpenghasilan rendah. Kebutuhan dasar seperti bahan bangunan yang terjangkau masih jauh dari memadai.
Dari situ lahir gagasan untuk membangun industri bahan bangunan yang menyasar masyarakat luas.
Pada 1993, berdirilah Arwana—sebuah nama yang bukan sekadar merek, melainkan simbol inklusivitas. Arwana adalah akronim dari Arab, Jawa, dan Cina, mewakili latar belakang para pendirinya.
Namun, perjalanan awal perusahaan ini tidaklah mulus. Modal Tandean terbatas. Bahkan, kepemilikan sahamnya di awal perusahaan berdiri merupakan yang paling kecil di antara para pendiri.
“Uang saya enggak cukup, enggak banyak. Saya punya modal cuma dipercaya, jadi saya bisa mengelola,” katanya.
Justru dari yang kepercayaan itulah seluruh perjalanan Arwana dibangun.
