Asaki Targetkan Utilisasi Industri Keramik Tembus 90 persen pada 2028

- Asaki targetkan utilisasi industri keramik tembus 90 persen pada 2028
- Fokus roadmap Asaki adalah meningkatkan utilisasi produksi hingga 90 persen pada 2028.
- Kapasitas produksi industri keramik nasional diproyeksikan naik menjadi 701 juta meter persegi pada 2028
Jakarta, FORTUNE - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) periode 2026–2029 resmi memulai langkah baru dengan menyiapkan roadmap pengembangan industri keramik nasional.
Peta jalan ini memotret arah ekspansi tiga tahun ke depan—mulai dari pertumbuhan investasi, peningkatan utilisasi, hingga penambahan kapasitas produksi.
Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, mengatakan fokus utama roadmap tersebut adalah mendorong kenaikan tingkat utilisasi produksi yang selama ini menjadi tantangan utama industri.
Menurutnya, Asaki menargetkan utilisasi terus meningkat dari 73 persen pada 2025, kemudian naik menjadi 80 persen pada 2026, dan 85 persen pada 2027.
“Setelah itu, 2028 seterusnya kami memberanikan diri set target utilisasi di atas 90 persen,” ujar Edy pada pelantikan Dewan Pengurus Asaki di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (3/2).
Edy menjelaskan proyeksi optimistis ini lahir karena kuatnya dorongan kebijakan pemerintah yang memperbaiki iklim industri. Bea masuk anti-dumping, safeguard, serta penerapan SNI wajib disebut telah mendorong pemulihan industri keramik pada 2025.
Ke depan, sejumlah program pemerintah diyakini akan menjaga momentum pertumbuhan. Program seperti 3 Juta Rumah, pembangunan Sekolah Rakyat, pendirian Koperasi Merah Putih, serta berbagai insentif properti menjadi motor permintaan.
Asaki menghitung Program 3 Juta Rumah saja berpotensi mengerek utilisasi hingga 16 persen. Jika realisasinya berjalan sesuai target, industri keramik nasional bahkan bisa melampaui utilisasi 90 persen lebih cepat.
“Untuk tahun ini kami masih moderat di 80 persen,” kata Edy.
Selain utilisasi, kapasitas produksi juga dipastikan meningkat. Tahun lalu, kapasitas industri keramik nasional mencapai 650 juta meter persegi.
Tahun ini, kapasitas terpasang akan naik sekitar 4 persen menjadi 672 juta meter persegi.
Dalam dua tahun ke depan atau paling lambat 2028, kapasitas diproyeksikan kembali naik menjadi 701 juta meter persegi. Peningkatan ini disebut akan semakin mengokohkan posisi Indonesia sebagai salah satu lima besar produsen keramik dunia.
Edy mengungkapkan salah satu pendorong kenaikan kapasitas adalah berkembangnya skema Original Equipment Manufacturing (OEM) antara importir dan produsen lokal.
Melalui skema ini, dibangun pabrik baru berkapasitas 60.000 meter persegi, dan akan disusul rencana pembangunan fasilitas tambahan berkapasitas 50.000 meter persegi.
Skema OEM disebut tumbuh berkat kebijakan pemerintah yang memperkuat proteksi industri dalam negeri dari serbuan produk impor.
Dengan peningkatan kapasitas, kenaikan utilisasi, serta berbagai kebijakan proteksi, Edy menegaskan Indonesia kini telah mencapai tahap swasembada keramik.
“Multiplier effect dari kebijakan sudah mengalir. Kami berani menyampaikan Indonesia sudah swasembada keramik. Tanpa impor pun, kami sudah bisa memenuhi permintaan dalam negeri,” ujarnya.


















