Kadin Incar Mitra dari Cina dan Hong Kong yang Belum Pernah Masuk Indonesia

- Kadin Indonesia mencari mitra baru dari Cina dan Hong Kong untuk masuk ke pasar Indonesia.
- Forum bisnis internasional pada Februari 2026 akan mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan perusahaan dari kedua negara tersebut.
- Investasi kedua negara berpotensi melampaui Singapura, dan kemitraan ini penting bagi perekonomian domestik.
Jakarta, FORTUNE - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia membidik kerja sama baru dengan perusahaan-perusahaan asal Cina dan Hong Kong yang selama ini belum pernah masuk ke pasar Indonesia. Upaya ini dilakukan melalui sebuah konferensi bisnis internasional yang akan mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan perusahaan dari dua negara tersebut pada Februari 2026.
Coordinating Vice Chairwoman Kadin Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan, Shinta Kamdani, mengatakan forum ini menjadi pintu masuk ke arah peluang kemitraan jangka panjang, terutama pada sektor rantai pasok dan industri berkelanjutan seperti baterai dan energi hijau.
“Kita tidak hanya melihat perusahaan besar yang sudah ada di Indonesia. Banyak perusahaan Cina yang belum dikenal dan kami ingin jalin kemitraan,” ujar Shinta dalam keterangannya, dikutip Senin (2/2).
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, sepanjang 2025 Hong Kong mencetak realisasi investasi US$10,6 miliar dan berada di posisi kedua, disusul Cina di posisi ketiga dengan US$7,5 miliar. Jika digabung, total investasi kedua negara berpotensi melampaui Singapura yang masih menduduki peringkat pertama dengan US$17,5 miliar.
Shinta menilai kemitraan baru ini penting bagi perekonomian domestik, terutama untuk membuka pasar dan menggaet investor baru di tengah tekanan yang dihadapi industri manufaktur nasional. Industri padat karya seperti tekstil, menurutnya, sedang mengalami tekanan yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja.
Meski begitu, ia melihat peluang besar dari potensi masuknya investasi baru pada sektor manufaktur, kendaraan listrik (EV), mineral kritis, akuakultur, hingga pertanian. Diversifikasi pasar pun menjadi prioritas.
“Kita tidak bisa hanya bersandar ke pasar-pasar tradisional. Cina adalah salah satu sumber impor terbesar bagi Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Chief Development Officer South China Morning Post, Eugene Tang, mengatakan banyak perusahaan dari berbagai sektor—termasuk yang belum pernah berinvestasi di Indonesia—akan hadir dalam konferensi tersebut.
“Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari iklim usaha Indonesia, ukuran pasar, potensi pertumbuhan, serta kerangka regulasi dan perpajakan,” kata Tang dalam keterangan yang sama.
Sejumlah perusahaan besar seperti Huawei, BYD, dan Oppo telah lebih dulu menggarap pasar Indonesia. Namun, mayoritas peserta China Conference: Southeast Asia 2026 pada 10–11 Februari 2026 di Jakarta merupakan perusahaan baru yang masih dalam tahap penjajakan.
Konferensi tersebut akan mengangkat isu strategis kawasan, mulai dari dinamika geopolitik, masa depan rantai pasok China+1, konektivitas digital dan akses permodalan, hingga transisi hijau dan prospek kerja sama ekonomi China–ASEAN.

















