Apindo Buka Suara Usai IHSG Anjlok: Sentil Soal Konsistensi Kebijakan

- Rungkadnya IHSG dalam dua hari perdagangan terakhir dipicu laporan MSCI.
- Apindo menilai pelemahan ini tidak dapat dilepaskan dari tekanan eksternal.
- Konsistensi kebijakan jangka menengah hingga panjang dipandang penting agar Indonesia tetap menarik sebagai tujuan investasi.
Jakarta, FORTUNE - Pasar modal Indonesia tengah menghadapi ujian berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok tajam dalam dua hari perdagangan terakhir, bahkan sempat memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt) sebanyak dua kali dalam sepekan. Volatilitas ekstrem ini dipicu oleh sentimen eksternal, yakni keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk membekukan sementara evaluasi indeks Indonesia.
Merespons gejolak tersebut, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pelaku pasar tetap rasional. Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menilai langkah korektif yang diambil pemerintah dan otoritas bursa—salah satunya melalui penyesuaian aturan saham free float—sudah merupakan respons cepat demi meredam dampak laporan MSCI tersebut.
“Kita serahkan kepada pemerintah untuk langkah proaktifnya,” ujar Shinta saat ditemui di Jakarta, Kamis (29/1).
Di luar dinamika pasar saham harian, Apindo menekankan stabilitas ekonomi sesungguhnya bergantung pada iklim investasi pada sektor riil. Shinta mendorong pemerintah lebih agresif memanfaatkan satuan tugas (Satgas) percepatan investasi atau Satgas Debottlenecking.
Wadah ini dinilai vital sebagai kanal resmi bagi investor dalam mengurai benang kusut perizinan dan regulasi yang menghambat realisasi investasi di lapangan.
“Masalah yang dihadapi investor itu bisa di-address melalui Satgas ini. Kami memanfaatkan ini agar permasalahan bisa diselesaikan secara spesifik,” katanya.
Sebagai bentuk konkret perbaikan iklim usaha, Shinta menyoroti revisi Peraturan Pemerintah (PP) 28 terkait perizinan yang telah mengakomodasi masukan pelaku usaha. Selain itu, ia menyarankan pemerintah menggunakan basis data yang valid, seperti survei Bank Dunia (World Bank), untuk memetakan titik lemah daya saing nasional secara akurat.
Apindo mengingatkan, kepercayaan investor tidak dibangun dalam semalam. Konsistensi kebijakan jangka menengah dan panjang jauh lebih penting ketimbang bereaksi berlebihan terhadap sentimen jangka pendek.
“Selain kita membawa potensi-potensi baru masuk untuk menjalin kemitraan, kita juga harus menjaga iklim investasi Indonesia ini siap. Kita jangan lihat cuma short term, tapi juga mid to long term,” ujarnya.

















